Cara Menikmati Lagu dan Musik di Tahun 90an

0
1001
Tape player

Tahun 90an dulu, sebuah lagu nilainya jauh lebih berharga dari saat ini. Mudahnya mendapatkan lagu dalam bentuk digital membuat generasi jaman sekarang kurang merasakan nikmatnya sebuah lagu. Saat itu, lagu dan musik menjadi sesuatu yang benar-benar berharga. Bahkan jadi kemewahan tersendiri.

Untuk mendengarkan lagu kesayangan tidak semudah sekarang, ada perjuangan yang harus ditempuh. Sarananya pun masih terbatas. Bagi generasi 90an, semuanya itu seru, indah, dan layak dikenang.

Kaset Pita dan Tape Player

Kaset pita biasanya disebut kaset saja. Adalah gulungan pita berwarna coklat yang ditempatkan dalam kotak plastik kecil. Bagian tengah kotak itu mempunyai dua lubang, tempat lingkaran yang bagian dalamnya bergerigi, fungsinya untuk memutar pita. Kaset mempunyai dua sisi, side A dan side B.

Cassette tape
Cassette tape

Alat pemutar kaset adalah tape player, biasanya disebut tape saja. Ada yang sekaligus punya fitur radio dan juga CD player. Di tahun 90an sudah ada tape yang memakai remote control. Tempat pemutar kasetnya umumnya tunggal (single deck). Yang double deck biasanya digunakan untuk merekam kaset ke kaset kosong.

Tape juga bisa dibawa-bawa lho, seringnya sih dibawa kemping. Tape yang dibawa bertenaga baterai. Jaman itu belum ada power bank, mau tidak mau harus bawa banyak baterai cadangan. Di film-film barat 90an juga sering ada adegan anak gaul yang bawa tape ke mana-mana. Biasanya anak kulit hitam. Volumenya kencang, tape-nya biasanya dijinjing atau dipanggul di pundak. Sengsara banget ya?

Old school hip-hop
Old school hip-hop! Foto: https://www.pinterest.com/pin/380272762256027737/

Di tahun 90an insan musik akan merekam karya mereka di kaset untuk kemudian dipasarkan. Kaset akan dilindungi oleh wadah yang juga terbuat dari plastik. Sebuah kaset juga dilengkapi dengan cover, yang seringnya juga memuat lirik lagu-lagu di kaset tersebut. Jaman itu mencari lirik lagu tidak gampang. Bahkan sampai buku-buku berisi lirik lagu pun dijual. Anak sekolahan 90an juga sering menulis lirik lagu kesayangannya di buku tulis.

Umumnya harga sebuah kaset cukup terjangkau bagi kantong anak muda. Tapi untuk mengoleksi banyak lagu cukup mahal juga. Satu kaset hanya berisi kisaran 10 lagu. Untunglah anak muda 90an adalah generasi kreatif, ada beberapa cara yang mereka tempuh.

  • Meminjam kaset teman. Biasanya dalam beberapa hari sudah dikembalikan, yang parah sampai hitungan bulan atau selamanya nggak balik-balik.
  • Membeli kaset kosong yang harganya jauh lebih murah. Meminjam kaset teman lalu direkam di tape double deck. Kalau cuma punya tape single deck, biasanya numpang merekam di tape teman. Yang nasibnya bagus, bisa merekam dari CD yang hasil rekamannya lebih bagus.
  • Merekam lagu-lagu dari radio. Kelemahan teknik ini biasanya lagu yang didapat tidak utuh opening dan ending-nya. Malah bisa tercampur dengan suara penyiarnya.
  • Memesan lagu-lagu favorit dari toko kaset. Ada toko kaset yang menerima pesanan rekaman lagu. Kita tinggal sodorkan daftar lagu-lagu yang ingin direkam, dan bayar. Beberapa hari kemudian pesanan bisa diambil.
  • Membeli kaset bajakan. Kualitas kaset bajakan tidak sebagus kaset original. Kadang malah lebih bagus hasil merekam sendiri.
  • Mencuri kaset teman. Nah, ini yang paling parah. Apalagi mencuri kaset teman, direkam dulu mungkin untuk disimpan, lalu dijual ke teman yang lain. Siapa yang dulu kelakuannya seperti itu? Semoga sekarang sudah jadi orang yang baik.

Fungsi lain kaset adalah untuk investasi kecil-kecilan. Jika bokek, atau terlanjur memakai uang SPP sekolah buat jajan sementara pihak sekolah sudah menagih, kaset bisa digadai atau dijual ke teman. Kalau kasetnya susah didapat harga jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli.

Walkman

Walkman
Real Walkman

Walkman sebenarnya adalah brand pemutar kaset portabel keluaran Sony. Namun di Indonesia umumnya semua pemutar kaset portabel (ada yang dilengkapi fitur radio) disebut Walkman. Brand Walkman sendiri saat ini masih dipakai untuk pemutar audio dan video portabel digital. Di tulisan ini, selanjutnya pemutar kaset portabel akan disebut dengan walkman, biar lebih terasa nuansa 90annya.

Kamu akan keren jika di tahun 90an punya walkman. Tidak semua anak bisa punya walkman karena harganya cukup lumayan. Umumnya sudah pada puas dengan memiliki tape player saja. Walkman kadang dibawa untuk menemani jogging. Ribet juga sih, tidak bisa membawa kaset banyak-banyak. Walkman murahan biasanya bunyinya berisik kalau dipakai jogging. Koclak.. koclak.. koclak, begitu bunyinya kalau terguncang-guncang.

Banyak anak yang memimpikan bisa memiliki walkman “merk” Sony atau Aiwa. Tampilannya keren pun suaranya bagus. Karena harganya yang mahal, banyak yang sampai punya anak istri dalam hidupnya, hanya mampu membeli walkman murahan. Kebanyakan hanya sampai taraf dipinjami.

CD dan Portable CD Player

CD dan apalagi pemutar CD portabel juga jarang anak yang punya. Jika punya, bisa dipastikan dia itu anak orang kaya atau nasibnya bagus. Jangankan player-nya, CD-nya saja harganya mahal. Bahkan jarang ada anak di masa itu yang pernah memegang CD atau player-nya. Kebanyakan hanya pernah melihat di iklan atau toko. Dulu kalau ada iklan album baru, ada kata-kata “Dapatkan kaset dan CDnya!”.

Radio

Anak gaul 90an biasanya pantengannya gelombang FM. Mirip-mirip jaman sekarang, kita bisa salam-salaman dan request lagu lewat radio. Penyiar radio pun punya fans-nya masing-masing. Tapi, tahun 90an itu penuh perjuangan.

Kita harus mengambil kupon atensi di stasiun radio, ada yang berbayar ada yang gratis. Kupon itu ada isian seperti pengirim, acara, lagu yang di-request, dan pesan. Setelah diisi kupon atensi itu kita serahkan lagi ke stasiun radio. Hari itu juga kupon kita akan dibaca, biasanya penyiar juga mengomentari pesan kita. Tapi kalau hari itu ada begitu banyak kupon untuk acara yang sama, bisa jadi kupon kita baru dibacakan keesokan harinya.

Kira-kira seperti ini isi kupon atensi:

Nama: Bujang Penyendiri
Acara: 90 Hits
Lagu: Kirana – Dewa 19
Pesan: Salamnya buat Apila (anak pinggir lapangan), Marwan dan Supardi di 2A, Duyung Dayani. Dara Berduri, aku benci kamu! Spesial buat Gadis Berkumis: aku tak akan bisa melepaskanmu pergi, kenangan akan kumismu menyiksaku…. Buat yang siaran kalo lagunya nggak diputerin moga-moga bisulan hahaha.

Request lagu dan kirim salam bisa juga dilakukan lewat telepon. Bagi yang punya telepon di rumahnya tidak masalah. Bagi yang tidak punya telepon harus rela sedikit berjuang mencari telepon umum atau Wartel.

Televisi

Tahun 90an hanya ada satu stasiun televisi negeri, TVRI, dan 5 stasiun swasta dalam negeri yaitu RCTI, SCTV, TPI (sekarang MNCTV), ANTV, dan Indosiar. Kualitas program yang disajikan rata-rata lebih bagus dari stasiun televisi sekarang, termasuk acara musiknya.

Saat itu banyak program musik yang berkualitas, konsepnya bagus dan masing-masing punya keunikannya sendiri. Ada yang menampilkan klip-klip lagu yang sedang populer, perform grup band dan penyanyi baik lip sync maupun benar-benar menyanyi, ada yang mengkhususkan pada musik akustik. Beberapa program musik itu antara lain Album Minggu, September (sepuluh tembang bergengsi), MTV Most Wanted, MTV Ampuh, Akustik Plus, Pesta, Delta (deretan lagu teratas), dan Asia Bagus.

Info tentang lagu baru sering didapat melalui acara musik di televisi. Saat itu rata-rata pembawa acaranya tidak cuma jago cuap-cuap, tapi juga tahu soal musik. Sehingga tidak hanya klip musiknya yang enak dinikmati.

Ada satu lagi cara generasi 90an menikmati musik, yaitu menonton konser. Kurang lebih sama dengan jaman sekarang, harus beli tiket dulu, nonton ramai-ramai sama teman, dan lain-lain. Perbedaan yang mendasar, menurut kami generasi 90an, kualitas penyanyi dan grup band jaman itu lebih bagus. Diantara mereka yang benar-benar mumpuni, sampai sekarang masih ada yang eksis dan disegani. Sebut saja Slank, Iwan Fals, Sawung Jabo, Katon Bagaskara, Anggun, Bebi Romeo, dan Ahmad Dhani. (WA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY