Cepu Pada Era Geger Samin

0
1038
Samin

Pajak tinggi dan berbagai “kerja bakti wajib” yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap rakyat jelata bumiputra, khususnya di Pulau Jåwå, mau tak mau mengundang tindakan perlawanan oleh anggota masyarakat yang hidupnya kian menderita.

“Perlawanan rakyat Blorå yang dipelopori (oleh) petani muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masihi (M). Perlawanan petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi penduduk pedesaan pada waktu itu.” Demikian menurut laman ensiklik Wikipedia.[1]

“Pada tahun 1882, pajak kepala yang diterapkan oleh pemerintah penjajah sangat memberatkan… pemilik tanah (petani)[2]. Di daerah… lain di Jåwå, kenaikan pajak telah menimbulkan pemberontakan petani, seperti Gègèr[3] Cilegon pada tahun 1888.”[4]

“Selang dua tahun kemudian… petani dari Blorå mengawali perlawanan terhadap pemerintahan penjajah…. Pelopornya Kiyai Samin Suråsentikå.”

“Gerakan Samin sebagai gerakan petani anti-kolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu… gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal bersenjata.”

“Beberapa indikator penyebab adanya pemberontakan untuk menentang (pemerintah) kolonial… (Hindia) Belanda antara lain:

  • Berbagai macam pajak…;
  • Perubahan pola pemakaian tanah komunal; serta
  • Pembatasan dan pengawasan oleh Belanda… (terhadap) penggunaan hasil hutan oleh penduduk.”

“(Ketiga)… indikator ini mempunyai hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blorå. Gerakan ini (oleh pakar Barat dianggap) mempunyai corak millenarisme, yaitu gerakan yang menentang ketidakädilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.[5]

Apa yang terjadi di wilayah Cepu pada era pemberontakan petani ini?

“Secara langsung rakyat Cepu tidak terlibat… dalam Gerakan Samin. Namun, wilayah Cepu berada di tengah pengaruh Gerakan Samin. Dapat dilihat pusat… Gerakan Samin di sekitar Cepu, seperti Batokan, Klopoduwur, Ngraho, Sambongrejo, Tanduran, Kedungtuban, Ngradin,… dan Tapelan….”[6]

“Desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Kasiman, Kecamatan Padangan, dan Kecamatan Ngraho, (Kabupatèn Bojonegoro, serta) di wilayah Kecamatan Kedungtuban dan Kecamatan Sambong, (Kabupatèn Blorå), yang kesemuanya itu melingkari wilayah Cepu.”[7]

“Baru kemudian perjuangan masyarakat Samin dalam arti fisik untuk menentang Belanda pudar berkenaan (dengan) (Ki) Samin Surå(se)ntikå ditangkap (oleh) Belanda (dan) kemudian (beliau) diasingkan ke Padang,”[8] tepatnya di tambang batubara Sawahlunto.[9]

Kronologi Geger Samin

Samin Anom alias Radèn Kohar mulai mengembangkan dan menyebarkan ajarannya pada tahun 1890 di Desa Klopoduwur di Regensi Blorå bagian selatan. Banyak orang desa di wilayah sekitarnya, antara lain dari Desa Tapelan, Distrik Ngraho, Regensi Bojonegoro, datang berguru.[10]

Begitu ditulis oleh sebagian besar sumber. Akan tetapi, ada sedikit sumber yang menyatakan Ki Samin sudah mulai sesorah pada tahun sebelumnya, 1889. “Ketika berceramah di pinggir hutan jati Desa Bapangan, Blorå, (pada bulan) Februari 1889, (Ki) Samin menyerukan bahwa seluruh warga dibenarkan menebang pohon jati di hutan negara karena tumbuh di tanah leluhur mereka,” tulis Heddy Lugito dalam Lensa, kolomnya di Majalah Gatra, Jakarta, Edisi 24, Senin, 24 April 2006.[11]

Waktu itu, 1889–1990, pemerintah kolonial Belanda belum tertarik untuk menumpasnya, karena merebaknya kepercayaan yang mengakibatkan berkumpulnya orang itu belum dianggap mengganggu keamanan.

Padahal, ajaran Samin cepat tersebar. “Berbagai ajaran yang menyimpang dari kehidupan wajar etnis Jåwå dan pembangkangan terhadap segala kebijakan penjajah Belanda terus disebarluaskan kepada para pengikutnya,” tulis Slamet Widodo.[12]

Menurut Nancy Lee Peluso, setelah “tumbuh (pada) tahun 1890 di dua desa hutan kawasan Randublatung (di Regensi Blorå, dan)… Bojonegoro,… gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke… desa lain, mulai dari pantai utara Jåwå sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, atau di sekitar perbatasan Provinsi Jåwå Tengah dan Jåwå Timur menurut peta sekarang.”[13]

Kenapa Ki Samin bersikap demikian? Apa faktor pendorongnya? Kenapa ajaran Samin cepat meluas? Menurut Darmo Subekti[14], “Saminisme ialah… pergerakan melawan pemerintah Belanda yang berawal ketika Belanda melakukan pematokan tanah untuk kegiatan penanaman hutan jati (pada) tahun 1870.”[15]

“Sebagai gerakan yang cukup besar, Saminisme tumbuh sebagai (tindakan) perjuangan melawan kesewenang(-wenang)an Belanda yang merampas… tanah (yang) digunakan untuk perluasan hutan jati. Para pengikut Samin berpendapat, langkah swastanisasi kehutanan (pada) tahun 1875, yang mengambil alih… tanah kerajaan, menyengsarakan masyarakat dan membuat mereka terusir dari tanah leluhurnya,” tambah duo penulis G. Sujayanto dan M.S. Laksono.[16]

Padahal, dalam “pemahaman pengikut Samin… tanah dan udara ialah hak milik komunal yang merupakan perwujudan kekuasaan Tuhan Yang Maha-Esa. Mereka (pun) menolak berbicara dengan… mandor hutan dan para pengelola dengan bahasa (Jåwå) kråmå. Sebagai gantinya, para Saminis memperjuangkan hak-haknya dalam satu bingkai, menggunakan bahasa yang sama, Jåwå ngoko yang kasar alias tidak taklim. Sasaran mereka sangat jelas, para mandor hutan dan pejabat pemerintah Belanda.”[17]

Tanah milik komunal? Menurut M. Imam Subkhi, “Dalam Serat Punjer Kawitan, yang ditulis (oleh) Samin Suråsentikå,… (dit)egaskan bahwa Tanah Jåwå bukan milik Hindia Belanda, bukan milik penguasa, akan tetapi milik… turunan Pandhåwå, yaitu… turunan Måjåpahit. Atau secara luas, Tanah Jåwå ialah milik orang Jåwå. Maka (dari itu,) ketika pemerintahan Hindia Belanda menarik pajak dari warga, Samin Suråsentikå menganjurkan untuk menolak pajak tersebut. (Ini karena)… kita hidup di tanah warisan leluhur kita sendiri, sehingga pemerintah Hindia Belanda serta para… pejabat… (sama-sama) tidak berhak menarik pajak dari masyarakat. Selain itu,… Saminisme juga… (merupakan) gerakan penolakan terhadap pemerintah yang membatasi masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan.”[18]

“(Pada)… masa… (kira-kira) tahun 1900, mandor hutan yang menjadi antek Belanda mulai menerapkan pembatasan bagi masyarakat dalam soal pemanfaatan hutan. Para mandor itu berbicara soal hukum, peraturan, serta hukuman bagi yang melanggar. (Akan te)tapi,… pengikut Samin menganggap remeh perkara itu,” kata duo penulis itu lagi.[19]

“Sosialisasi hukum itu lantas ditindaklanjuti pemerintah Belanda dengan pemungutan pajak untuk air, tanah, dan usaha ternak mereka. Pengambilan kayu dari hutan harus seizin mandor polisi hutan. Pemerintah Belanda berdalih semua pajak itu kelak dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Akal bulus itu ditentang oleh masyarakat pinggir hutan di bawah komando Samin Suråsentikå yang diangkat oleh pengikutnya sebagai pemimpin informal.”[20]

Sementara itu, Residèn Rembang, (?) Fraenkel, pada tahun 1903 melaporkan ada 772 orang Samin yang tersebar di 34 desa di Blorå bagian selatan dan Bojonegoro. Mereka giat menyebarkan ajaran Ki Samin. Dua tahun kemudian, pada tahun 1905, dipelopori oleh Ki Samin sendiri, warga Samin mulai mengubah tata cara hidupnya. Mereka tak lagi menyetor padi ke lumbung desa dan tak mau membayar pajak. Mereka juga menolak mengandangkan kerbau dan sapinya di kandang umum.[21]

G. Sujayanto dan M.S. Laksono punya gambaran yang lebih rinci, “Ketika mandor hutan menarik pajak tanah, secara demonstratif mereka berbaring di tengah tanah pekarangannya sambil berteriak keras, ‘Kanggo!’ (punya saya)[22]. Ini membuat para penguasa dan… orang kota menjadi sinis dan mengonotasi pergerakan tersebut sebagai sekadar perkumpulan orang tidak santun. Penguasa bahkan mendramatisirnya dengan falsafah Jåwå kunå yang menyatakan(nya) ‘wong ora iså båså’ atau dianggap tak beradab. Akibatnya, para pengikut Samin yang kemudian disebut orang Samin, dicemooh dan dikucilkan dari pergaulan.”

Sikap wong Sikep itu menjengkelkan pamong dan warga desa yang bukan penganut ajaran Samin. Mereka pun melontarkan julukan –dalam arti negatif– wong Samin dan wong Dam, orang yang menganut agåmå Adam.[23]

Tak hanya sekadar hukuman sosial tersebut, “ketika pergerakan itu memanas dan mulai menyebar… (pada kira-kira) tahun 1905, pemerintah (kolonial Hindia) Belanda melakukan represi; Menangkap para pemimpin pergerakan Samin, juga mengasingkannya. Belanda juga mengambil alih tanah kepemilikan dari mereka yang tak mau membayar pajak,” begitu ditulis G. Sujayanto dan M.S. Laksono. “Namun, tindakan pengasingan dan tuduhan gerakan subversif (itu) gagal menghentikan aktivitas para Saminis. Sekarang pun… sisa para pengikut Samin masih ditemukan di kawasan Blorå yang merupakan jantung hutan jati di Pulau Jåwå.”[24]

Pada tahun 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 5.000 jiwa[25]. Akan tetapi, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie yang terbit pada tahun 1919 baru mencatat angka 2.300 jiwa, dengan persebaran di regensi: Blorå, Bojonegoro, Pati, dan Kudus,[26] sedangkan menurut Darmo Subekti, jumlahnya 2.305 keluarga sampai tahun 1917, tersebar di Blorå, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragèn, dan Grobogan, dan yang terbanyak di Tapelan.[27]

Bahkan, “daerah persebaran ajaran Samin, menurut (R.P.A. Suryanto) Sastroatmodjo (2003) di antaranya di Tapelan (Bojonegoro), Nginggil[28] dan Klopoduwur (Blorå), Kutuk (Kudus), Gunungsegårå (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlågå Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan… gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batini(y)ah guna menguasai hawa nafsu.”[29]

Pemerintah Hindia Belanda terkejut dan juga takut, apalagi ada desas-desus bahwa pada tanggal 1 Maret 1907, mereka akan memberontak. Waktu itu, di Desa Kedungtuban, Regensi Blorå, ada orang Samin selamatan. Mereka yang menghadirinya ditangkap, karena dianggap mempersiapkan pemberontakan.[30]

Pada tanggal 8 November 1907, Ki Samin diangkat oleh pengikutnya menjadi ratu adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryångalam. Empatpuluh hari kemudian, Ndårå Setèn (Asistèn Wedånå, Camat) Randublatung, Radèn Pranålå, menangkap dan menahannya di bekas tobong, tempat pembakaran batu gamping. Ia kemudian dibawa ke Rembang, diinterogasi, dan bersama delapan pengikutnya dibuang ke luar Jåwå,[31] tepatnya di Sumatra. Tuduhannya: penghasutan dan pendurhakaan (sedition).[32]

Ada perbedaan data tentang tanggal penangkapan ini. Slamet Widodo menulis, “Pada tanggal 8 November 1907, Samin Suråsentikå ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Digul (?[33]). Empat puluh hari sebelum penangkapan itu, Samin Suråsentikå memproklamirkan dirinya sebagai Raja Tanah Jåwå. Pada tahun 1914, Samin Suråsentikå meninggal dalam pengasingannya.”[34] Tetapi, kebanyakan sumber menyatakan Ki Samin dibuang ke Padang[35] atau Sawahlunto, Sumatra Barat. Sutamat Arybowo, misalnya, bahkan menulis “Seperti tokoh perintis kemerdekaan Indonesia yang lain, ia dibuang ke Sawahlunto,…”[36]

Walau bagaimanapun, penangkapan tersebut tidak memadamkan Gerakan Samin. Wångsårejå giat menyebarkan ajaran itu di Distrik (kini: Kecamatan) Jiwan, Regensi Madiun, pada tahun 1908. Ia mengajak orang desa tidak membayar pajak. Ia bersama dua temannya ditangkap dan dibuang ke luar Jawa.[37]

Surå Kidin, menantu Ki Samin, dan Engkrak, pengikutnya, menyebarkan ajaran Samin di Grobogan (Purwådadi), sedangkan (Surå) Karsiyah, juga pengikutnya, di Kajèn, Regensi Pati, Karesidènan Semarang, pada tahun 1911. Pada tahun berikutnya, 1912, pengikutnya yang lain berusaha menyebarkan ajaran itu di Jatirogo, Tuban, tetapi gagal.[38]

“Pola kepemimpinan pada masa ini tidak lagi bersifat sentralistik namun lebih bergantung pada pemimpin lokal di masing-masing wilayah,” tulis Slamet Widodo.[39]

Pada saat Ki Samin meninggal di pengasingan pada tahun 1914, Saminisme kian merebak, khususnya di wilayah Pati.[40] Gègèr Samin mencapai puncak justru pada tahun tersebut, karena pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak. Di Grobogan, orang Samin tak mau lagi menghormati pamong desa dan pemerintah. Di Distrik Balérejå, Madiun, orang Samin mengibuli pemerintah dan tak mau membayar pajak. Di Kajèn, Karsiyah tampil sebagai Pangéran Sendhang Janur, mengimbau orang desa tidak membayar pajak.[41]

Di Desa Larangan, Pati, orang Samin menyerang lurah dan polisi. Di Tapelan, mereka tak mau membayar pajak, mengancam asistèn wedånå, kemudian ditangkap dan dipenjara. Samat, pemimpin Pergerakan Samin di Pati, mengajarkan bahwa Ratu Adil akan datang bila tanah yang “digadaikan” kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda dikembalikan kepada orang Jåwå.[42]

Pada tahun 1915, usaha penyebaran Saminisme di daerah Jatirogo, Tuban, diulang, tetapi lagi-lagi menemui kegagalan. Warga Samin pun mencari daerah baru. Mereka merambah daerah Undaan, Kudus, pada tahun 1916. Pada tahun 1917, pengikut Engkrak meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda penjajah dengan apa yang disebut “perlawanan pasif”. Namun, pemerintah akhirnya dapat memadamkan “pemberontakan” yang menjengkelkan ini.[43]

Pada tahun itu, menurut C.L.M. Penders yang mengutip data J.E. Jasper, di Bojonegoro, ada 283 keluarga penganut Saminisme yang tinggal di Distrik Padangan, Tambakrejo, dan Ngampak.[44]

Ambil Tumpahan Minyak, Merepotkan BPM

Jarang penulis sejarah Saminisme mengaitkan gerakan Samin dengan penambangan minyak oleh Belanda, yang konon dimulai dengan pemboran oleh Dordtsche Petroleum Maatschappij (DPM).[45]

“Perilaku warga model Samin sempat merepotkan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), penguasa 227 sumur di Bojonegoro pada (dasawarsa) 1920-an. Waktu itu, warga tanpa permisi mengambil tumpahan minyak di sumur Bataafsche. Meski cuma untuk konsumsi dapur, ulah mereka dianggap mengganggu. Maka (dari itu), perusahaan minyak Belanda itu terpaksa memberikan kompensasi kepada masyarakat setempat 240 gulden per tahun. To(k)h, warga tetap saja mengambil ceceran minyak mentah itu,” tulis kolumnis Heddy Lugito.[46]

Pada tahun 1930, pergerakan Samin terhenti karena tiadanya pemimpin yang tangguh.[47]

Wangsit Datangnya Bangsa Katé

Pada tahun 1939, Ki Surå Kidin mendapatkan aji pameling atau wangsit, tentu saja dalam bahasa Jåwå. Bunyinya dalam bahasa Indonesia kira-kira: “Jangan kuatir, aku akan membantu kamu… mengusir Belanda. Hanya syaratnya berat. Aku akan mencari jago trondhol (ayam jantan yang kepalanya tidak berbulu) dari timur laut untuk sarana kamu merdeka. Oleh karena itu, kamu lekas pulang, beri tahu anak cucumu agar menyiapkan garam dan menanam kapas karena akan mahal pakaian dan makanan….”[48]

Inilah ramalan yang mirip Jångkå Jåyåbåyå mengenai kedatangan bangsa katé yang seumur jagung itu untuk menandai akan berakhirnya penjajahan Belanda yang digantikan oleh bala tentara Dai Nippon pada tahun 1942.[49]

Pada tahun 1945, menurut tradisi lisan di Blorå, Engkrèk dari Klopod(h)uwur ikut bertempur di Suråbåyå melawan Belanda. Katanya, ia akan menyambut datangnya Ratu Adil.[50]

Menurut Slamet Widodo, “generasi berikutnya ialah Surokarto Kamidin, anak dari Suro Kidin. Surokarto Kamidin merupakan pemimpin Samin generasi ketiga dan menetap di Dusun Jepang. Surokarto Kamidin memegang kepemimpinan pada masa peralihan pendudukan Belanda dan Jepang hingga pada masa kemerdekaan. Pada tahun 1986, Surokarto Kamidin meninggal dunia dan kepemimpinan Samin di Dusun Jepang digantikan oleh anaknya, Hardjo Kardi, hingga saat ini.”[51]

Begitulah, sebenarnya gerakan Samin tidak pernah mati. “The movement never quite disappeared. So there were references to Saminists in the former regency of Blora still as late as the late 1960’s (the 1967). And in 1973 a Dutch researcher paid a visit to a community of Saminists in the village of Kutuk in the Kabupatèn of Kudus, in the former residency of Semarang. Of a total population of 5.000 of this desa, allegedly 2.000 persons were Saminists (Mulder). Prior to 1920 the total number of followers of the movement never at any one time exceeded 3.000 heads of households,” tulis A. Pieter E. Korver.[52]

{Gerakan itu tidak pernah benar-benar menghilang. Begitulah, ada rujukan bahwa Saminisme masih ada di bekas Regensi Blorå hingga akhir dasawarsa 1960-an, tepatnya 1967. Dan pada tahun 1973, peneliti Belanda mengunjungi masyarakat Samin di Desa Kutuk di Kabupatèn Kudus, di bekas Karesidènan Semarang. Dari total 5.000 jiwå penduduk desa itu, 2.000 jiwå di antaranya diduga keras pengikut Saminisme, (kata Niels Mulder). Sebelum tahun 1920, total jumlah penganut ajaran Samin tidak pernah melebihi 3.000 keluarga pada satu waktu.”}

Meski pemerintah kabupatèn setempat –karena malu!– sejak zaman Orde Baru senantiasa bersikukuh Saminisme telah tiada lagi, pada kenyataannya ajaran yang dianggap mirip milenarisme ini tetap tumbuh. Bahkan, dalam beberapa tahun menjelang akhir dasawarsa 2000-an ini, ketika kejujuran merupakan “barang langka”, Saminisme seperti kembali mendapatkan momentum.

Catatan kaki

  1. Anonim1, “Kabupaten Blora,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 26 Februari 2011.14:11.
  2. Ibid.
  3. Saya ganti dari aslinya: “Peristiwa”, agar sesuai dengan istilah yang lazim digunakan, khususnya di Banten, tempat peristiwa itu terjadi —MMeSeM.
  4. Anonim1, op.cit., dalam http://id.wikipedia.org/, 26 Februari 2011.
  5. Ibid.
  6. Tim Penyusun, Sejarah dan Perkembangan Gereja Katolik Santo Willibrordus Cepu 1912–1997, Paroki Santo Willibrordus Cepu, Cepu, Juni 1997, halaman 21–22. Tim ini diketuai oleh Fr.Agus Supriyadi dengan Tim Redaksi: Drs. A. Moedjito M.W.A.; Ir. Lukas St. Agustono; Dra. Lucia M.; Retno Tri Wuryantini; Drs. F.X. Agus Purnomo; Drs. J. Bambang Suryono; Patricia Bayu S., S.Pi.; Drs. A. Untung Wintoro; F.X. Eddy Sudarmono; Lucia Kristyaningsih; Atsy Wiharja; dan Stefanus Syaiful Buchanan Somantha Wahyudi.
  7. Tim Penyusun, op.cit., Juni 1997, halaman 22.
  8. Ibid.
  9. Cyprianus (C.) Anto Saptowalyono (S.), “Samin, Kultur Berlatar Perlawanan Penjajah,” dalam http://kompas.com, Jum’at 4 Maret 2005.
  10. Profesor Doktor Suripan Sadi Hutomo (S.H.), Tradisi dari Blora, Penerbit Citra Almamater, Semarang, cetakan pertama, 1996, halaman 14. Lihat juga:
    • Pieter E. Korver, The Samin Movement and Millenarism, dalam Bijdragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde, 132, Leiden, 1976, halaman 249 dari 249-266. Bijdragen atau BKI ialah majalah terbitan Koninklijk Instituut voor Taal-,Land- en Volkenkunde (KITLV).
    • Nancy Lee (N.L.) Peluso, Rich Forests, Poor People: Resource Control and Resistance in Java, sebagaimana dikutip oleh G. Sujayanto dan Mayong Suryo Laksono (S.L.), “Samin: Melawan Penjajah Dengan Jawa Ngoko”, dalam majalah Intisari, Juli 2001. Artikel ini juga dipunggah ke http://www.indomedia.com/, yang di antaranya juga di-posting ke laman http://desantara.org/, 1 Desember 2008.11:37.
  11. Heddy Lugito (L.), Saminisme Blok Cepu, dalam kolom Lensa, Majalah Gatra, Jakarta, Edisi 24, Senin 24 April 2006.
  12. Slamet Widodo (W.), Masyarakat Samin di Tengah Arus Modernisasi; Transformasi Pertanian Pasca Revolusi Hijau, dalam lamannya, http://learning-ofslametwidodo.com/, yang dipunggah pada 1 Februari 2008 dalam kategori “Perubahan Sosial, Sosiologi Pembangunan, Struktur Sosial.” Slamet W. itu dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo, Madurå. Lamannya sudah non-aktif.
  13. N.L. Peluso, op.cit., sebagaimana dikutip oleh G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  14. Penyiar perintis Radio Gagak Rimang Blora inilah yang mendorong saya menjadi penulis. Beliau menjuluki saya “penyair Blora”. Dengan sabar, beliau membacakan puisi yang saya tulis a la ceker ayam di kertas sobekan buku skrip —MMeSeM.
  15. G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  16. G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  17. Ibid.
  18. M. Imam Subkhi, “Meluruskan Pandangan tentang ‘Wong Samin’,” dalam http://www.wedangronde.blogspot.com, Minggu 21 Oktober 2007.08:30.
  19. G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  20. Ibid.
  21. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 14.
  22. Jangan kaget dengan terjemahan bebas ini, secara harfiah kata Jåwå kanggo itu bermakna “terpakai”, yang memang menyiratkan arti “punya saya” —MMeSeM.
  23. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 14.
  24. G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  25. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 14.
  26. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 12, dengan mengutip Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, 1919.
  27. Darmo Subekti, “Tradisi Lisan Pergerakan Samin, Legitimasi Arus Bawah Menentang Penjajah,” makalah, Blorå, 1999, sebagaimana dikutip oleh G. Sujayanto dan Mayong S.L., op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001.
  28. Di desa inilah, mBah Surå Nginggil menularkan ajarannya pada tahun 1967, sehingga terbentuk “komunitas” yang bermottokan “pejah-gesang ndhèrèk Bung Karno” (hidup atau mati membela Bung Karno), proklamator Republik Indonesia. Sayang, pemerintah Orde Baru menggilasnya dengan alasan mereka itu PKI. “Peristiwa yang berakhir dengan berdarah-darah, termasuk tewasnya mBah Surå, dan ditahannya ratusan orang itu sempat menggegerkan Tanah Air,” tulis Djoko Pitono dalam karangannya, yang dipunggah ke laman ilusa_05@yahoogroups.com oleh “heri purnomo” <heri_kajangan@yahoo.com> pada hari Rabu 10 Desember 2008.00:50:30, dengan judul Secuil Kisah.
  29. Anonim, “Ajaran Samin,” dalam http://id.wikipedia.org, terakhir diubah pada 12 Juli 2008.19:34, dengan mengutip R.P.A. Suryanto Sastroatmodjo, 2003.
  30. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 14–15.
  31. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.
  32. A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 249-250 dari 249-266.
  33. Digul? Wow, ini aneh. Sayang, Slamet Widodo tidak menyebutkan sumbernya —MMeSeM.
  34. Slamet Widodo, op.cit., 1 Februari 2008.
  35. Misalnya Nancy Lee Peluso, op.cit., sebagaimana dikutip oleh G. Sujayanto dan M.S. Laksono, op.cit., dalam majalah Intisari, Juli 2001. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008, meskipun pada halaman sebelumnya juga menyebut nama kota “Tanah Lunto” (Sawahlunto?).
  36. Sutamat Arybowo, “Orang Samin dan Pandangan Hidupnya”, dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/10/humaniora/3522042.htm. Sutamat itu peneliti LIPI dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan.
  37. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.
  38. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.
  39. Slamet Widodo, op.cit., 1 Februari 2008.
  40. A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 250 dari 249-266.
  41. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 15. Lihat juga Anonim, op.cit., dalam Wikipedia®, 12 Juli 2008.
  42. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 16.
  43. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 16.
  44. Christiaan Lambert Maria (C.L.M.) Penders, M.A., Ph.D., Bojonegoro 1900–1942: A Story of Endemic Poverty in North-East Java, Gunung Agung, Singapura, 1984, halaman 117, dengan mengutip J.E. Jasper, Verslag betreffende het onderzoek in zake de Samin beweging, Landsdrukkerij, Batavia, 1918, halaman 3.
  45. Heddy L., op.cit., 24 April 2006.
  46. Ibid.
  47. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 16.
  48. C. Anto S., “Samin: Kultur Berlatar Perlawanan Penjajah,” dalam rubrik “Tanah Air,” Kompas Cyber Media (KCM), Jumat 4 Maret 2005.
  49. Ibid.
  50. Suripan S.H., op.cit., 1996, halaman 16.
  51. Slamet W., op.cit., 1 Februari 2008.
  52. A. Pieter E. Korver, op.cit., dalam BKI, 1976, halaman 250 dari 249–266.

Sumber gambar: petra.ac.id (MMeSeM/WA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY