Desa Balun Disebut dalam Dongeng Maling Genthiri

1
393
Kali Modang

Desa Balun disebut sebagai asal Jåkå Selakan, pesaing Maling Genthiri[1] ketika sama-sama melamar Dèwi Sirep, anak Sugati, janda dari Desa Sapetik, kini di Kecamatan Sulang, Kabupatèn Rembang, Jåwå Tengah. Genthiri bin Kiyai Ageng Pancuran mencegat dan membunuh Jåkå Selakan bin Kiyai Ngusman di Kali Modang, sekarang di Kecamatan Sambong, Kabupatèn Blorå, juga di Jåwå Tengah.

Siapakah Maling Genthiri ini? Pancuran itu kini di mana?

“Salah sawijiné caritå kang kawentar kang ånå ing Blorå yaiku caritå Maling Kenthiri.”

(Salah satu cerita yang populer di Blorå ialah kisah Maling Genthiri.) Demikian diceritakan kembali oleh blogger yang menamakan diri Ria Gesti ’05.[2]

“Maling Kenthiri iku maling kang senengäné ngréwangi wong sing mlarat utåwå ora duwé. Maling Kenthiri iku ugå kasebat maling agunå yaiku maling kang sekti måndrågunå.”

(Maling Genthiri itu pencuri yang suka membantu orang melarat atau mereka yang tidak berpunya. Maling Genthiri juga disebut pencuri budiman yang demikian sakti.)

“Kenthiri… gandrung marang Dèwi Sirep, putrané mBok Råndhå Sugati såkå Déså Sapetik, Sulang, Rembang. Amargå iku, Kiyai Ageng Pancuran njaluk tulung marang seduluré, Jarunan, supaya nglamar Dèwi Sirep kanggo Kenthiri.”

(Genthiri jatuh cinta kepada Dèwi Sirep, putri mBok Råndhå Sugati dari Desa Sapetik, Sulang, Rembang. Karena itu, Kiyai Ageng Pancuran minta tolong kepada saudaranya, Jaruman, agar melamar Dèwi Sirep untuk Genthiri.)

“Kang gandrung marang Dèwi Sirep ora mung Kenthiri ananging ugå Jåkå Selakan, putrané Kiyai Ngusman såkå Balun, Cepu, Blorå. Jåkå Selakan ugå nglamar Dèwi Sirep. Anggoné Kenthiri nglamar luwih dhisik tinimbang Jåkå Selakan, ananging sing ditåmpå mBok Råndhå Sugati iku lamarané Jåkå Selakan. Ngerti kåyå mengkono, Kenthiri dadi ngamuk karo Jåkå Selakan.”

(Yang kasmaran kepada Dèwi Sirep tidak hanya Genthiri, melainkan juga Jåkå Selakan, putra Kiyai Ngusman dari Balun, Cepu, Blorå. Jåkå Selakan juga melamar Dèwi Sirep. Genthiri melamar terlebih dahulu ketimbang Jåkå Selakan, akan tetapi yang diterima oleh Janda Sugati justru lamaran Jåkå Selakan. Ketika mengetahui hal itu, Genthiri marah kepada Jåkå Selakan.)[3]

“Ing sawijiné dinå, Kenthiri nyegat Jåkå Selakan ing Kali Modang kang ånå ing sisih loré[4] Cepu. Kekaroné terus pådhå padu. Jåkå Selakan kalah, terus dipatèni Kenthiri. Panggonäné Jåkå Selakan pejah terus kasebat Kali Mati.”

(Pada satu hari, Genthiri mencegat Jåkå Selakan di Kali Modang yang ada di sebelah utara Cepu. Keduanya lalu bertengkar dan berkelahi. Jåkå Selakan kalah, lalu dibunuh oleh Genthiri. Lokasi Jåkå Selakan gugur sejak itu disebut Kali Mati.)[5]

Kaitannya dengan Wali Sångå

Sampai tulisan ini diturunkan, saya tidak berhasil mencari tahu siapa Kiyai Ngusman dari Balun itu. Entah bagaimana pula silsilahnya. Yang saya tahu, ada aulia di antara anggota dewan dakwah Wali Sångå bernama Radèn ‘Usman al-Hajj gelar Sunan Ngudhung.[6]

Aulia ini beranak dua: (1) ‘Amir al-Hajj gelar Sunan Kudus II, dan (2) Dèwi Sujinah[7]. Sunan Kudus II inilah yang menurut duo ahli sejarah Belanda H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, guru Adipati Jipang, Aryå Penangsang (k. 1521-1549 M).[8] Kalau ada Sunan Kudus II, siapa pula Sunan Kudus I?

Sunan Kudus I ialah Ja’far Shådiq, yang datang di Pulau Jåwå bersama Syarif Hidayatullåh gelar Sunan Gunung Jati dan Syarifah ‘Alawiyah pada tahun 1436 M.[9]. Syarifah ‘Alawiyah ialah adik dua bersaudara wali asal Palestina, Mawlana Hasan al-Din dan Mawlana ‘Aliy al-Din, yang datang pada tahun 808 H (1404 M) bersama tujuh Wali Sångå periode pertama yang lain.[10]

Radèn ‘Usman Haji dikatakan berasal dari Cempå (Jåwå: Champa) dan tinggal di Jipang-Panolan, yang kini menjadi dua desa di Kecamatan Cepu, Kabupatèn Blorå).[11] Benarkah pada saat itu sudah ada sebutan Jipang-Panolan, Kadipatèn Jipang yang beribu-kota Panolan?

Saya tidak berpendapat demikian. Saat itu masih era Kasultanan Demak Bintårå (k. 1478-1568 M), yang ada ialah Kadipatèn Jipang yang beribu-kota Jipang. Kadipatèn Jipang beribu-kota Panolan baru ada pada era Kasultanan Pajang (k. 1568-1601 M), yakni ketika Putra Mahkota Pajang, Pangéran Benåwå, menjabat adipati di sana.

Kenapa ibu kota dipindahkan ke Panolan? Ini karena Kota Jipang telah dibumi hangus dalam penyerbuan oleh pasukan Pajang. Dalam perang yang mengakhiri pertikaian panjang dan berlarut-larut antara Jipang dan Pajang ini, yang berlangsung 1549-1568 M, Radèn Sutåwijåyå terkesan berhasil membunuh Aryå Penangsang dengan tombak Kiyai Plèrèd.

Sepanjang pengetahuan saya, di Kadipatèn Jipang, sedikitnya ada tiga kota yang disebut Jipang, yakni (1) Jipang Hulu, yang kini Desa Jepang di Kecamatan Margomulyo, Kabupatèn Bojonegoro; (2) Jipang Pasar, yang kini Desa Jipang, Cepu; dan (3) Jipang Hilir, yang saya belum tahu tepat lokasinya, yang juga berada di wilayah Bojonegoro.

Makam Maling Genthiri

Mari kita kembali membahas Maling Genthiri, yang makamnya terletak di wilayah Kecamatan Jepon, Kabupatèn Blorå. “Makam ini terletak di Desa Kawengan…, yang mudah dijangkau (dengan) kendaraan(, baik) roda dua maupun roda empat.”[12]

Makam Genthiri versi BloraKab.go.id
Makam Genthiri versi BloraKab.go.id

“Genthiri… anak… Kiyai Ageng Pancuran(. Ia)… memiliki kesaktian tinggi, suka menolong… orang yang kesusahan serta orang yang tidak mampu. Hanya saja, upayanya membantu rakyat kecil dilakukan dengan cara mengambil barang milik orang lain untuk diberikan kepada orang… yang membutuhkan. Meski demikian, Maling Genthiri di kalangan rakyat miskin dijuluki sebagai ratu adil karena bersedia mengentaskan rakyat dari kemiskinan.”[13]

Makam Genthiri versi website PromoJateng
Makam Genthiri versi website PromoJateng

“Akhirnya, Maling Genthiri sadar dan menghentikan kebiasaannya melanggar hukum dalam membantu masyarakat kurang mampu. Karena… jasanya, terutama kepada rakyat miskin, makam tersebut sering dikunjungi masyarakat(, baik) dari dalam maupun luar kota, karena masih dianggap keramat dan memberikan berkah. Bahkan, pengunjung tidak hanya terbatas dari wilayah Jåwå Tengah, melainkan dari beberapa daerah….”

“Makam Maling Genthiri mudah dijangkau(, baik) dengan sepeda motor maupun mobil, bahkan kendaraan roda empat bisa masuk hingga mendekati makam karena tersedia jalan yang memadai di kompleks makam. Meskipun hanya disediakan aula sederhana, ada pula peziarah yang rela menginap di lokasi makam karena tujuan tertentu.”[14]

Oh ya, ayah Maling Genthiri ialah Ki Ageng Pancuran. Ini berarti Sang Bapak ini penggedhé atau tinggi atau kepala desa Pancuran. Di mana sekarang desa ini? Toponimi ini sekarang menjadi Pancur. Ada dua kemungkinan lokasi Pancuran: (1) Desa Pancur, Kecamatan Mayong, Kabupatèn Jepårå,[15] atau (2) Desa Pancur, Kecamatan Pancur, Kabupatèn Rembang.[16]

Karena ada lima desa dan dusun yang sama-sama bernama Pancur di kecamatan itu, yakni (8) Desa Pancur; (19) Dusun Pancur, Desa Japeledok; (21) Dusun Pancur, Desa Gemblengmulyo; (22) Dusun Pancur, Desa Criwik; (23) Dusun Pancur, Desa Banyuürip;[17] maka saya bisa membayangkan bahwa dulu ada “desa besar” (biasanya di Rembang disebut: Banjar) Pancuran di sana.

Maling Genthiri Juga Terkait Wali Sångå

Versi Maling Genthiri sebagai penculik putri mengaitkan pencuri sakti itu dengan Sunan Muriå bin Sunan Ampèl? “Di sekitar Muriå, yaitu pantai utara daerah Jepårå, Tayu, Pati, Juwånå, Kudus, dan lereng… Gunung Muriå, terdapat cerita rakyat tentang Maling Genthiri.” Demikian diceritakan kembali oleh blogger Ferry Riyandika (R.).[18]

Bagaimana jalan ceritanya? Saya ringkaskan saja ya, supaya tulisannya tidak terlalu panjang.

Ki Ageng Ngerang syukuran. Sebagai orang yang dituakan karena kearifan dan kepandaiannya, banyak yang hadir dalam perjamuan tersebut. Juga muridnya: Sunan Kudus, Sunan Muriå, Adipati Pathak Warak dari Pulau Måndålikå, Jepårå, serta kakak-beradik Maling: Kåpå dan Genthiri.

Putri Ki Ageng Ngerang, Rårå Yånå dan adiknya, Rårå Pujiwati, keluar menyajikan hidangan. Banyak tamu terpesona. Adipati Pathak Warak tak bisa menahan nafsu. Ia pun bicara kepada Rårå Yånå bahwa ia ingin memilikinya. Rårå Yånå tidak mengindahkan. Karena itu, ketika malam tiba, Rårå Yånå diculik oleh Sang Adipati, dibawa ke Pulau Måndålikå.

Esok hari, gemparlah; Semua orang sibuk mencari Rårå Yånå. Ki Ageng pun bersayembara: siapa pun yang dapat merebut kembali putrinya, bila lelaki akan dinikahkan dengannya, bila perempuan akan dijadikan saudara.Tak ada yang berani tunjuk jari, kecuali Sunan Muriå.

Sunan Muria menuju utara. Kåpå dan Genthiri menyusul. Mereka sepakat, kedua pencuri sakti yang akan merebut Rårå Yånå untuk Sunan Muriå. Di Måndålikå, Kåpå menghadapi Pathak Warak. Genthiri menggendong Sang Dara. Setelah mengakali Sang Adipati, Kåpå mengejar Genthiri.

Di pinggir laut, mereka melihat perahu saudagar Lodhang Datuk. Kåpå minta bantuan diseberangkan ke Jåwå. Lodhang Datuk menyuruh anak buahnya, ia sendiri menghadapi Pathak Warak, yang akhirnya tewas. Dengan demikian, Kåpå dan Genthiri membawa kembali Rårå Yånå ke Ngerang.

Untuk menghargai jasa kedua maling agunå, Ki Ageng Ngerang menghadiahkan wilayah Buntar. Rårå Yånå dinikahkan dengan Sunan Muria. Selesai sampai di sinikah kisahnya? Tidak demikian halnya. Dalam upaya penyelamatan itu, diam-diam terjalin asmara antara Rårå Yånå dan Maling Genthiri.

Beberapa hari kemudian, Genthiri tak lagi mampu membendung rasa rindunya kepada Rårå Yånå. Ketika tengah malam tiba, Genthiri masuk kaputrèn Padepokan Muriå. Rårå Yånå terbangun. Mereka pun saling genggam jemari. Genthiri berniat membawanya lari.

Namun, baru keluar pintu, ia dipergoki pengawal. Terjadilah perang tanding, Genthiri dikeroyok oleh murid Sunan Muriå. Tewaslah Genthiri. Ketika mengetahui hal itu, Maling Kåpå berang, ia tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Tidak diceritakan nasibnya kemudian.[19]

Masih banyak versi lain mitos Maling Genthiri, akan tetapi, hanya itulah yang terkait dengan Desa Balun, Kali Modang, dan Wali Sångå.

Catatan kaki:

  1. Orang Blorå menyebut tokoh ini Genthiri. Jadi, dalam terjemahan bahasa Indonesia, saya akan menggunakannya, alih-alih dari Kenthiri yang digunakan dalam artikel utama yang saya jadikan rujukan, yakni Ria Gesti ’05, “Maling Kentiri,” dalam http://dwitaryanto.blogspot.co.id/, 5 Februari 2012. Saya menemukan tulisan Ria di dalam kumpulan arsip Dwi Taryanto perihal dongeng Kota Pekalongan —MMeSeM.
  2. Ria Gesti ’05, op.cit., dalam http://dwitaryanto.blogspot.co.id/, 5 Februari 2012.
  3. Ibid.
  4. Saya ganti dari aslinya “wétané” —MMeSeM.
  5. Ria Gesti ’05, op.cit., dalam http://dwitaryanto.blogspot.co.id/, 5 Februari 2012.
  6. Agus Wahyudi, Inti Ajaran Makrifat Jawa — Makna Hidup Sejati Syekh Siti Jenar dan Wali Songo, Pustakan Dian, Yogyakarta, cetakan kedua, Agustus 2004, (yang pertama Juni 2004), halaman 19.
  7. Ibid.
  8. H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti dan Perwakilan KITLV, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 241. Buku H.J. Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud ini terjemahan dari De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, Studien Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, seri VKI No. 69. VKI itu Verhandelingen van het (rangkaian terbitan) KITLV, sedangkan KITLV ialah Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.
  9. K.H. Dachlan Abd. Qahar (A.Q.), Wali Sanga, dalam Ibrohim Ghozi (Gh.), Kenang-kenangan Haul Agung Sunan Ampel Ke-539, Panitia Haul Agung Sunan Ampel, Surabaya, 1989, halaman 30.
  10. Dachlan A.Q., op.cit., dalam Ibrohim Gh., op.cit., 1989, halaman 12 dan 21.
  11. Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 51. Lihat juga H. Sayid Husein al-Murtadho, Keteladanan dan Perjuangan Wali Songo dalam Menyiarkan Agama Islam di Tanah Jawa, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, cetakan pertama, Mei 1999, halaman 131, dengan mengutip Mohammad Zaini A.A., Kisah Wali Sanga, Bintang Terang 99, Surabaya, tanpa tahun, halaman 146.
  12. Anonim, “Makam Maling Gentiri,” dalam http://www.promojateng-pemprovjateng.com/, tanpa titi mangsa (t.t.m.).
  13. Anonim, op.cit., dalam http://www.promojateng-pemprovjateng.com/, t.t.m., dengan mengutip
    • Sartono K. Dirdjo (1984).
    • Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, Tradisi Dari Blora, 1996.
    • cerita rakyat.
  14. Ibid.
  15. Lihat, misalnya, Anonim, “Mayong, Jepara,” dalam https://id.wikipedia.org/, tanpa titi mangsa.
  16. Anonim, “Pancur, Rembang,” dalam https://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 13 Juni 2013, pukul 07.23.
  17. Ibid.
  18. Ferry Riyandika (R.),”Sejarah Kisah Para Maling Sakti (Aguno) dari Masa ke masa,” dalam http://tatkalam.blogspot.co.id/, Sabtu, 30 Juli 2011.
  19. Ibid.

Foto: Sariman Lawantiran.

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY