Tinggal Kenangan Es Tomo Bertahan Hampir Setengah Abad

0
179
Es Tomo
Pujiono generasi ketiga dan… terakhir. (Foto: Joti Nurcahyo)

Nama Tomo, bagi Anda yang berdomisili di Kota Cepu, Kabupatèn Blorå, Jåwå Tengah, dan sekitarnya, khususnya Anda yang seusia dengan saya, tentu sudah tidak asing lagi. Ia berjualan es campur kacang hijau di warung di bilangan pertigaan Ketapang, yang boleh dibilang pintu masuk dari Jåwå Timur.

“Tampaknya usaha ini tetap berikhtiar[1] bertahan selama setengah abad ini –satu usaha yang ternyata tak lapuk oleh waktu dan tak lekang oleh zaman[2].” Demikian ditulis dalam Koran Mingguan Diva, Balun Graha, edisi No. 24 Tahun Kedua – 28 April-4 Mei 2004.[3]

Gus Moen, yang sejak 23 tahun yang lalu tinggal di Bekasi, Jåwå Barat, kepada Diva menyatakan bahwa “keberadaan usaha ini(,) yang sampai detik ini masih tetap eksis, merupakan… kebanggaan tersendiri.”

“Tempat ini dulu merupakan langganan saya dan geng saya. Bagi warga Cepu dan sekitarnya, dulu pada dekade sampai dengan tahun 1980-an, hanya ada dua penjual es campur yang sangat terkenal, yaitu Pak Tomo di Ketapang dan Pak Rimin di depan Pegadaian Cepu,” kata bapak tiga anak kelahiran:[4] Desa Jetis, Kecamatan Kota Blorå,[5] 50 tahun yang lalu.[6]

Kepada Diva yang sempat ngobrol santai di sela minum es di tempat itu, Gus Moen berkomentar bahwa setiap ia pulang ke Cepu, ia selalu menyempatkan diri minum es di tempat ini. Demikian juga dengan rekannya yang lain. Tempat ini membawa kenangan tersendiri baginya.[7]

Kalah Bersaing

Es Tomo
Pujiono generasi ketiga dan… terakhir. (Foto: Joti Nurcahyo)

Pujiono, cucu Pak Tomo, merupakan generasi ketiga yang menjalani usaha ini. Lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) Yosef tahun ajaran 1994/1995 ini berusia 28 tahun pada tahun 2004, ketika wawancara berlangsung.[8]

Usaha es campur ini, yang didirikan oleh Pak Tomo sekira awal 1960-an, cukup terkenal sampai dasawarsa 1980-an. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, warung es yang terletak di Jalan Ronggolawé No. 1, sebelah selatan pertigaan Ketapang, Cepu, ini kalah bersaing oleh usaha semacam yang lebih modern.

“Saat ini omzet (pen)jualan rata-rata Rp100.000 per hari. Ini (jelas) tidak sebesar… tahun yang lalu, karena banyaknya (pe)saing…,” kata bujangan yang sangat ngefans… kelompok sepakbola Italia, Intermilan.

Pujiono saat itu hanya melanjutkan saja. Pak Tomo digantikan oleh Paiman Siswa.[9]

Beberapa tahun yang lalu Pujiono berhenti berjualan es. Warungnya sempat berubah menjadi toko busana. Kemudian, terjadi perubahan; Ada agen tiket bus malam di situ.

Malamnya ada lesehan nasi dan kopi. Bersama adik ipar saya, pada hampir tengah malam, saya pernah beberapa kali makan di situ. Saya tidak tahu apakah yang berjualan itu Pujiono atau bukan; lelaki pedagang itu entah bersama istrinya atau perempuan siapanya.

(*rw.MMeSeM)

[1] Saya ganti dari aslinya: “berusaha” untuk menghindari pengulangan kata dasar “usaha” –MMeSeM.

[2] Saya ganti dari aslinya: “jaman”–MMeSeM.

[3] Fir2d, “Warung Es Pak Tomo: Bertahan Hampir Setengah Abad,“ dalam Koran Mingguan Diva, Balun Graha, Cepu, edisi No. 24 Tahun Kedua – 28 April-4 Mei 2004, halaman 5. Saya diwawancarai sebagai Gus Moen, begitu panggilan akrab saya sejak masih bocah di tanah kelahiran saya, Kota Blorå. Sebutan “gus” itu kependekan dari “bagus”, anak lelaki.

[4] Ibid.

[5] Saya ganti dari aslinya: “Balun, Kecamatan Cepu”. Yang lahir di Dukuh Bulakan, Kelurahan Balun, itu ayah saya, Kiyai Soetjipto Masjhoedi –MMeSeM.

[6] Fir2d, op.cit., dalam Diva, No. 24, 2004, halaman 5.

[7] Ibid.

[8] Fir2d, op.cit., dalam Diva, No. 24, 2004, halaman 5.

[9] Ibid.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY