Kethoprak Rukun Santosa Cepu: Kenangan Samar-Samar

2
124

Entah sejak dan sampai kapan di Kota Cepu, Kabupatèn Blorå, Jåwå Tengah, pernah ada gedung pertunjukan kethoprak dan wayang uwong, serta kelompok pemainnya. Saya hanya ingat salah satu nama pemain dhagelan-nya, Puspå Loncèng, serta pemiliknya, Tan San Ti, orang Tionghua.

Lokasinya di gang kecil di sebelah utara gedung Bioskop Semangat atau New Jaya Theater, yang juga milik Tan San Ti, di Jalan Raya Cepu, berseberangan dengan mulut timur Lorong Dua Kelurahan Cepu.

Konon, gedung ini dulu sarana pertemuan organisasi massa Islam, Nahdlatul Oelama (NO). Angin-angin-nya lambang NO.

Gedung bioskop lain yang dulu ada di Cepu ialah Bioskop Pahlawan, yang kemudian berganti nama menjadi Cepu Theater. Saya kenal salah satu proyektornya, To Idris, justru setelah ia tidak lagi bekerja di sana. Di sebelah bekas lokasinya, kini berdiri Hotel Miranda.

Kita kembali ke sejarah kethoprak di Kota Cepu.

“Nama kelompoknya Kethoprak Rukun Santoså,” kenang Haji (H.) Muharno, adik ipar saya, ketika kami berbincang di warung kopi milik mBah Muslim di Tukbuntung, Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, pada hari Ahad 8 Juli 2012 siang. Letaknya sekira 200 meter di barat Stasiun Besar Cepu.

“Pemain dhagelan-nya tiga. Yang tertua Puspå Loncèng. Yang paling lucu Nyamleng. Yang termuda Témbong. Orang yang bertugas berkeliling mengabarkan lakon yang akan dipentaskan pada malam harinya berasal dari Ngokèn,” desa di Kecamatan Padangan, Kabupatèn Bojonegoro, Jåwå Timur. Desa itu tepat di seberang timur Desa Balun, dipisahkan oleh Bengawan Sålå.

Pada hari Selasa 11 November 2014 sore, saya diajak oleh teman seiring saya sesama pendiri Paguyuban Malem Jemuah Pahing (PMJP) yang mengelola Pasar Seni Tukbuntung (Sarnitung) alias Pasar Seni Cepu (PSC) sejak Sabtu 24 Maret 2012, Hariyanto “Pèk Haré”, ke Purwosari, menemui mBah Dhalang Sunyoto.

Ketika kami datang, beliau sedang menatah wayang kulit purwå Werkudårå. Kami mengundangnya hadir dalam silaturahmi dengan Mei Nariyono, camat baru Kota Cepu, pada hari Kamis 13 November 2014 malam,[1] dengan rencana membentuk Paguyuban Nuswantårå guna:

  1. mengurus upaya pelestarian seni budaya dan tradisi;
  2. mengembangkan jaringan ekonomi kerakyatan; serta
  3. menerbitkan buku sejarah Cepu ini.

Cerita punya cerita, ternyata mBah Nyoto itu putra Sarimun, sutradara Kethoprak Rukun Santoså. Katanya, pada tahun 1950, Tan San Ti membeli Kethoprak Kembang Jåyå yang tampaknya saat itu sudah kembang-kempis, hidup segan mati tak mau.

Mbah Nyoto menatah wayang
Mbah Nyoto menatah wayang

Menurut mBah Dalang, Tan San Ti itu anggota Bapopsi. Ini yang membuat saya bertanya-tanya: apa itu Bapopsi? Saya pun berseluncur di dunia maya. Ternyata, BaPOPSI itu Badan Pembina Olah Raga Pelajar Seluruh Indonesia.[2] Saya coba buka kamus lama, saya tidak menemukannya.

Akhirnya, logika saya memberanikan diri mengoreksinya menjadi BaPerKI, yakni Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia yang oleh pemerintah Orde Baru (k. 1966–1998) dianggap sebagai underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, pendiri BaPerKI, Siauw Giok Tjhan, dalam parlemen, berseberangan dengan para tokoh PKI sejak dasawarsa 1950-an.[3]

Oleh karena itu, Tan San Ti dinyatakan terlibat Gerakan 30 September (G-30-S)/PKI pada tahun 1965. Sejak itu, kethoprak tersebut, baik gedung, maupun pemainnya, diurus oleh seorang polisi perintis dan diganti nama menjadi Kethoprak Mardi Budhåyå.

Saya ikut keluarga “pulang” ke Cepu pada tahun 1964, tepat ketika Sekolah Rakyat (SR) diganti nama menjadi Sekolah Dasar (SD). Oleh Bapak, saya disekolahkan di SD Negeri 2 Cepu, kini SDN-1 Balun, yang terletak di tepi barat Jalan Aryå Jipang dan di tepi utara Lorong 6 Dukuh Balun Srikaton.

Nah, salah satu guru saya di sekolah ini, Pak Djono, maaf, saya lupa nama lengkapnya, suka bermain kethoprak, khususnya sebagai Mahésåsurå dalam lakon Mahésåsurå-Lembusurå dari legenda meletusnya Gunung Kelud.

Beliau ini anggota Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Partai Nasional Indonesia (PNI). Oh ya, beliau juga menggunakan rumahnya di Lorong 3 Balun Srikaton untuk berlatih menjelang pementasan.

Di Kecamatan Cepu, tepatnya di Kelurahan Karangboyo, pernah tinggal pemain dan penulis cerita kethoprak, Manik Suroso. Bila ini Manik lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Padangan, itu berarti ia orang asli Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupatèn Bojonegoro, yang teman seangkatan H. Muharno.

Manik Suroso
Manik Suroso “njoged” pada pengantinan anaknya di Desa Karangboyo, Kecamatan Cepu, pada tahun 2004. (Foto: Jyoti Nurcahyo)

Pemain dan pemimpin rombongan kethoprak asal Cepu yang saya kenal ialah Bu Sumi. Sebelum main sebagai Adipati Jipang dalam lakon Aryå Penangsang Gugur, beliau mengunjungi Makam Gedhong Ageng di Desa Jipang untuk menabur bunga “minta izin”. Beliau juga lalu berpuasa.

Saya mengenalnya ketika Bu Sumi dan rombongannya main di gedung pertunjukan di dekat halté kereta api (KA) jurusan Blorå–Purwodadi di tepi barat jalan raya yang kini dinamai Mr. Iskandar di Desa Jetis, Kecamatan Kota Blorå, tempat saya dilahirkan.

Kethoprak juga pernah dipertunjukkan di Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Diponegoro, Dukuh Sidodadi, Kelurahan Cepu, yang kini digunakan sebagai gedung SMA Negeri 1 Cepu.[4]

Berdirinya SMA Negeri Cepu pada tanggal 1 Agustus 1966 dicetuskan oleh tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan di Cepu. Ini diawali dengan dibentuknya Kelas Jauh SMA Negeri Blorå, yang dikepalai oleh Soejadi Danoesoebroto, B.A.[5]

Cak Supali in action.
Cak Supali in action.

Kethoprak Desa

Seni kethoprak juga pernah tumbuh di pedesaan di eks Kawedanan Cepu, yang mencakup kecamatan: Cepu itu sendiri, Kedungtuban, Jiken, dan Sambong. Kebanyakan berupa kelompok tanggapan, sebagian juga tobongan. Yang paling dikenang orang ialah Kethoprak dari Desa Kalèn, entah apa nama grupnya.

Pada tahun 2012, selepas sembahyang Jum’at di Desa Jipang, saya bersama H. Muharno minum kopi kothok di warung di tepi jalan raya di Desa Kentong. Pada waktu itu, ada pengambilan gambar, entah untuk stasiun televisi mana, pula entah oleh rumah produksi apa, kelompok Kethoprak Kalèn.

Dari pembicaraan sesama peminum kopi di warung itu, saya tahu, para pemainnya bukanlah an sich berasal dari Desa Kalèn, melainkan sudah bon-bonan (dialek Cepu: “ambilan”) dari berbagai desa di seantero Kecamatan Cepu. Ini terjadi karena kian langkanya orang yang mau menekuni kesenian ini.

Yang dimaksud kethoprak tobongan ialah kelompok yang “hidup berpindah-pindah dengan membawa panggung dan sejumlah perlengkapan anggotanya.” Kethoprak tobongan luar kota yang pernah main di Cepu ialah Kelana Bhakti Budaya, yang dikelola oleh Dwi Tartiyasa, dari Kediri, Jåwå Timur.[6]

Yang lain ialah Kethoprak Siswobudoyo, yang dalam kenangan orang yang pernah bermasa kecil di Cepu, beberapa bulan sekali mangkal di Cepu dan memanggungkan lakon masyhur Aryå Penangsang Gugur dan Suminten Édan.[7]

“Masa kecil di kota kecil membuatku akrab dengan pementasan Kethoprak Siswobudoyo yang beberapa bulan sekali mampir,” tulis “Niah” Achsania dalam blog-nya.

“Kesempatan tugas luar di Cepu, di daerah yang terpencil, mengharuskanku melihat Google Map. Tiba-tiba terbaca tulisan ‘Jipang-Panolan’ yang kemudian me-recall impuls ingatanku tentang cerita pementasan Kethoprak Siswobudoyo yang paling aku sukai.”

“Ya, Aryå Penangsang, sosok itu sangat membekas (dalam)… ingatanku, yang mungkin ialah manifestasi ingatan masa kecilku atas… cerita kethoprak tentang sejarah kemelut Kerajaan Demak.”

“Sosok itu begitu melekat di benakku, tentang kudanya, pertempuran di sisi Bengawan Sålå, dan sosoknya yang gagah, karena mungkin dulu dimainkan oleh Suyadi, leading actor yang selalu memerankan tokoh… penting….”[8]

Leading actor? Seingat saya, bukan itu istilah yang digunakan dalam dunia kethoprak pada zaman saya kecil. Ada dua istilah untuk menyebut pemain utama, yakni lakon dan rol. Bila pertanyaannya “Lakoné såpå?,” itu berarti siapa pemainnya yang utama. Akan tetapi, jika “Lakoné åpå?,” itu bermakna apa judul ceritanya.

Cak Supali
Cak Supali

Dua di antara kelompok kethoprak desa dari Cepu, yakni Ket(h)oprak Taruno Budoyo yang dipimpin oleh Rasipan dari Desa Kentong dan Ket(h)oprak Sri Kawedar yang dipimpin oleh Yono Garèng dari Desa Tambakromo, pernah diikuti seniman serba-bisa dari Mojokerto, Bambang “Alex” Supali, pada tahun 1992–1993.[9]

Cak Supali lahir di Suråbåyå pada tanggal 21 Mei 1962 dan meninggal di Kelurahan Canggu, Kecamatan Jethis, Kabupatèn Mojokerto, pada senja Rabu 4 Januari 2012. Seniman ludruk ini mengawali kariernya pada usia 10 tahun sebagai pelawak untuk Zaenal “Bung Kelana” Arifin, penjual obat dari Jember.

Pada tahun 1978, ia melawak di radio. Setahun kemudian, ia mulai bermain ludruk di radio dan panggung. Ia pun merambah kethoprak, serta musik rekaman, terutama campursari, dangdut, dan jazz. Ia menjadi anggota pengurus Dewan Kesenian Kabupatèn Mojokerto (DKKM) sejak tahun 2005.[10]

(Martin Moentadhim S.M.)

[1] Hadir dalam silaturahmi ini, selain Camat Cepu Mei Nariyono; Hariyanto “Pèk Haré” dari Dukuh Ketapang Selatan: dan saya; juga Alex Sutarji dari Dukuh Nglinggo, Desa Ngloram; Edi dari kelompok musik Alpad, Padangan; Mulyani, kepala SMA Negeri 1 Cepu dari Dukuh Kandangdoro, Kelurahan Balun; Mulyoto “Ki Sarpå” dari Dukuh Sitimulyo, Kelurahan Cepu; Sarjono, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawé (STTR) dari Kabupatèn Sragèn; Sunyoto dari Desa Banjarjo, Kecamatan Purwosari, Kabupatèn Bojonegoro; dan Siswanto dari Lorong 7 Dukuh Srikaton, Kelurahan Balun.

[2] Godam64, “Arti Singkatan BAPOPSI / Kepanjangan Dari BAPOPSI – Akronim Tidak Resmi Bahasa Indonesia,” dalam http://www.organisasi.org/, 11 Februari 2013.23:48.

[3] Baca, misalnya:

  • Anonim, “Siauw Giok Tjhan,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 26 September 2014.06.20.
  • Anonim, “Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 23 Juni 2013.12.33.

[4] Anonim, “Lintasan Sejarah Berdirinya SMA Negeri 1 Cepu,” dalam http://sman1cepu.sch.id/, tanpa titi mangsa. Situs ini dikembangkan oleh TIM ICT SMA Negeri 1 Cepu pada tahun 2010.

[5] Ibid.

[6] Anonim, “Pentas Pamit Mati Ketoprak Tobong,” dalam http://kppo.bappenas.go.id/, tanpa tanggal, bersumberkan http://www.cetak.kompas.com.

[7] Achsania, “Jipang Panolan dan Arya Penangsang,” dalam http://achsania.blogspot.com, 30 April 2011.

[8] Ibid.

[9] Jabbar Abdullah, “Jejak Kesenian Cak Supali,” dalam http://m.pdiperjuangan-jatim.org/, Kamis 5 Januari 2012. Ini tulisan hasil jagongan dengan Cak Supali di rumahnya di Mojokerto, pada tanggal 17 Agustus 2011, pukul 00.47 WIB. Jabbar Abdullah itu pegiat Komunitas Lembah Pring, Jombang. tulisan ini juga diposting dalam kategori Ruang Merah dalam laman http://m.pdiperjuangan-jatim.org/, Kamis 5 Januari 2012.

[10] Ibid.

Sumber: NextNusantara

2 COMMENTS

  1. Comment:Sedikit koreksi Mas Moentadhim Kethoprak Rukun Santosa ini adalah anggota Bakoksi ( Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia ) jadi bukan Bapopsi, diakhir th 63 ada kurang lebih 800 kethoprak yg sudah tergabung menjadi anggota Bakoksi.
    Bicara masalah Bakoksi tentu tak bisa dipisahkan dari Lekra, intinya Lekra berusaha membina kethoprak lewat Bakoksi agar sejalan tidak menyimpang dari garis partai.
    Masa kecil saya menyaksikan bagaimana petugas keliling berjalan dari kampung ke kampung woro2 lakon yg akan dipentaskan nanti.
    Kami anak anak biasa menyebutnya Tukang Bende.
    Gambarannya sebagai berikut : Berkostum surjan lurik, mengenakan celana sebatas lutut, memakai blangkon dikepala.
    Menenteng bende dan corong berbentuk kerucut terpancung untuk halo2 dia akan berhenti disetiap perempatan kampung, bende itu akan ditabuh berkali kali untuk menarik perhatian orang.
    Kemudian didekatkan corong halo2 itu dimulutnya mulailah dia berteriak: sedherek2 sedaya kakung miwah putri, mangke dalu kulo aturi mirsani kethoprak Rukun Santosa kanthi lampahan..
    Itu akan diucapkan berkali kali agar banyak orang yang mendengar, sebagai penutup bende itu akan ditabuh lagi, dan ritual itu akan diulang lagi disetiap perempatan jalan kampung.
    Peristiwa ini terjadi sudah 50 tahun lebih yang lalu yang saya ingat alm ibu saya kalau mau nonton kethoprak biasanya cuma bilang saya mau nonton kethoprak santi bukan kethoprak Rukun Santosa.
    Demikian Pak Moentadhim sedikit kenangan masa kecil di Cepu yg semakin pudar dalam ingatan, semoga bermanfaat Suwun.

LEAVE A REPLY