Kopi Santen: Antara Jepangrejo dan Ngantru

0
972
Warung kopi santan di desa Ngantru, Bojonegoro
Warung kopi santan di desa Ngantru, Bojonegoro

ENTAH BAGAIMANA RASANYA, aku belum pernah mencobanya. Konon, kopi santen dibuat orang di dua kabupatèn yang bertetangga, keduanya terkait denganku. Yang satu tempat lahir Ibu, Bojonegoro, yang lain tempat lahirku, Blorå.

[alert-note]Tulisan M. Moentadhim S.M., jurnalis dan budayawan asal Cepu, Blora.[/alert-note]

Kuliner “kopi santan” ini bisa Anda temukan tepatnya di Desa Ngantru, Kecamatan Ngasem, Kabupatèn Bojonegoro, Jåwå Timur. Kopi santan itu kopi yang diseduh dengan santan. Harganya Rp1.000. Begitu ditulis oleh blogger Pyok.[1]

kopi santan
Kopi santan

Di Desa Jepangrejo, Kecamatan Blorå (Kota), penjualnya Rukini (39), yang mewarisi keahliannya turun-temurun. “Mungkin kalau di Kecamatan Blorå, hanya saya yang membuka usaha minuman kopi santan kelapa,” katanya.[2]

Pernah ada orang belajar kepadanya, tetapi akhirnya tutup karena sepi peminat atau mungkin rasanya lain. “Mungkin juga kurang sabar, sebab membutuhkan proses untuk bisa dikenal,” katanya.[3]

Baca juga: Sejarah Minyak Cepu

Sajian Buka Puasa

MENURUT RUKINI, sudah lebih dari lima tahun dia meneruskan usaha warisan neneknya, Sakijah (almarhumah), yang sudah membuat kopi santan kelapa untuk dijual, sejak dia kecil.[4]

Warung kopi santan di desa Jepangrejo, Blora
Warung kopi santan di desa Jepangrejo, Blora

“Awalnya, kata nenek saya, coba-coba membuat kopi yang dicampur santan kelapa untuk sajian berbuka puasa keluarga, namun karena rasanya enak dan khas akhirnya diteruskan untuk dikembangkan membuka usaha kopi santan. Jadi, kopi santan ini sudah puluhan tahun,” katanya.

Segelas kopi santan cukup Rp2.000. Setiap minggu habis 50 Kilogram gula pasir untuk memenuhi pecandu kopi santan dan kopi hitam kothokan di warungnya.

Para peminat kopi santan kelapa kebanyakan warga masyarakat desa sekitar, namun juga ada yang datang dari luar Kabupatèn Blorå seperti dari Bojonegoro, Pati, Sålå, dan Grobogan, sebab mereka penasaran dan ingin mencicipi.

“Dalam sehari rata-rata butuh enam Kilogram kopi dan 10 buah kelapa untuk diambil santannya,” katanya.

Jika ada pertemuan atau kunjungan pejabat ke Desa Jepangrejo, biasanya perangkat desa juga memesan kopi santan sebagai pelengkap sajian kuliner.[5]

Butuh Waktu

MEMBUAT KOPI santan, katanya, memerlukan waktu agak lama, sebab harus memeras kelapa yang sudah diparut untuk diambil santannya kemudian dicampur kopi, lantas dipanaskan dan diberi gula secukupnya.[6]

“Setelah dipanaskan beberapa menit, kopi santan siap untuk disajikan dan diminum, dan rasanya agak berbeda… (dari) kopi biasa,” katanya.

Mereka yang tidak terbiasa, katanya, pada awalnya akan merasa mual, namun rata-rata jika sudah terbiasa meminum kopi santan akan menjadi ketagihan.

Salah seorang penyuka kopi santan, Suntoyo, mengatakan, menikmati kopi santan Jepangrejo merupakan sisi lain kuliner yang tidak dijumpai di daerah lain. “Nikmat dan mantap, serta murah,” ungkapnya.[7]

Catatan kaki:

  1. Pyok, “Kopi Santan–Kuliner unik khas Ngasem Bojonegoro,” dalam https://pyok.wordpress.com/, 3 November 2013.
  2. Prit Johan (J.), “Nikmatnya Kopi Santan Ala Jepangrejo,” dalam http://www.infoblora.com/, 17 Juni 2014.07:00.
  3. Ibid.
  4. Prit J., op.cit., dalam http://www.infoblora.com/, 17 Juni 2014.
  5. Ibid.
  6. Prit J., op.cit., dalam http://www.infoblora.com/, 17 Juni 2014.
  7. Ibid.

(WA/via Tjepoe Sarang Naga)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY