Minta Gratisan, Kebiasaan Tak Sopan yang Sering Tidak Disadari

1
534
gratisan

Jika kamu membuka warung makan baru, launching buku baru, mulai berjualan aneka cemilan, membuka usaha jahit di rumah, dan semacam itu. Bersiap-siaplah.

Pasukan gratisan bisa saja menyerbu, biasanya justru dari teman dan keluarga sendiri. Orang-orang yang tidak dikenal justru membeli dengan harga yang wajar.

“Wah jualan ayam bakar sekarang, ya? Boleh dong aku nyicipin seporsi gratis!”

“Bukumu kayanya bagus, aku suka tuh baca novel yang temanya persahabatan. Bagi satu ya, ongkos kirimnya aku tanggung deh.”

Seperti itulah.

Orang Indonesia suka meminta gratisan, meski sebenarnya lebih dari mampu untuk membeli. Tanpa sadar bahwa itu adalah kebiasaan yang jelek dan tak sopan.

Mereka tak peduli jika kamu bulan kemarin di-PHK, dan terpaksa menerima modal dari mertuamu untuk membuka warung makan kecil. Demi agar anak istrimu tetap bisa hidup layak.

Mereka tak berpikir bukumu yang baru saja terbit itu kamu tulis selama 2 tahun. Membutuhkan malam-malam panjang, riset yang cukup mahal, proses editing yang menguras tenaga, dan pusingnya kepala saat ide macet.

Mereka tak mau tahu, anakmu beranjak besar dan biaya sekolahnya kian mahal. Kamu belajar membuat makanan kecil lalu menjualnya untuk membantu suamimu mencari nafkah.

Mereka menganggap keterampilan menjahitmu turun begitu saja dari langit. Sedangkan kamu telah menghabiskan ratusan ribu sampai jutaan rupiah untuk kursus dan membeli bahan.

Mereka datang, dengan ceria meminta gratisan, dengan alasan “kita teman” atau “kita kan saudara”. Tak memikirkan perasaanmu, apakah tersinggung atau sedih.

Kamu juga bisa bingung. Di satu sisi ingin dapat laba, di sisi lain ingin mengutamakan teman/saudara dan ada rasa tak tega. Solusinya, jangan kasih gratis tapi beri mereka harga diskon.

Mungkin sesekali kamu ikhlas memberi produk atau jasamu, gratis. Tapi tetap saja kebiasaan meminta gratisan itu seringnya menyebalkan dan mengganggu. (WA)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY