Kenangan Akhir Masa Dinas: Peta Wisata Napak Tilas Cinta Tanah Air

0
178

Saya mengakhiri dinas sebagai redaktur dan wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara {kini badan usaha milik negara (BUMN)} pada bulan Juli 1998. Nama saya tak lagi ada dalam susunan redaksi. Saya tidak tahu di mana akan ditempatkan. Katanya di jajaran manajemen. Saya tak mau mengingat-ingat kenangan pahit itu. Kepada Anda, pembaca yang budiman, saya hanya ingin menceritakan yang manis-manis.

Pada bulan Februari 1997, Direktorat Bina Wisata Nusantara, Direktorat Jenderal Pariwisata, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, di Jåkartå menerbitkan buku Wisata Napak Tilas, yang sebenarnya merupakan program tahun anggaran 1996/1997. Buku ini diterbitkan sesuai dengan arahan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), tulis Kepala direktorat tersebut, Drs. H.E.A. Chalik Hamid, M.B.A. dalam kata pengantar.[1]

Tujuan penerbitannya ialah “untuk memupuk rasa cinta tanah air serta menanamkan jiwa dan semangat nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan.” Upaya penggalangan wisata remaja ini merupakan “bagian yang tidak terpisahkan dari pola pengembangan pariwisata Nusantårå” dan “diarahkan kepada upaya… membentuk jati diri… remaja yang bangga sebagai bangsa Indonesia.”

Napak tilas apa? Kenapa remaja yang dijadikan sasaran pengembangan? Bagi saya, inilah salah satu bukti pentingnya negara memiliki GBHN sebagai inti butir tekad membangun negeri secara terencana, terarah, dan terukur, tetapi pada akhirnya juga bersifat semesta atau holistik seperti yang dipikirkan oleh Bung Karno (BK) dengan istilah “pembangunan semesta berencana”.

Buku Wisata Napak Tilas

Mari kita lanjutkan kaji kita, masih menurut kata pengantar H.E.A. Chalik Hamid.

“Salah satu bentuk kegiatan yang diharapkan dapat ikut mendorong proses pemantapan jati diri remaja ialah melalui kegiatan wisata napak tilas sejarah perjuangan bangsa.”

Ia berharap “Diterbitkannya bahan informasi wisata remaja napak tilas sejarah perjuangan bangsa…

(1) tidak saja… (merupakan) sarana yang akan membantu… remaja… merencanakan dan melaksanakan kegiatan wisatanya,

(2) namun lebih dari itu(,) juga akan menggugah sekaligus memperkuat tekad… mewarisi nilai-nilai perjuangan,

(3) di dalam ikut mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.”[2]

Taman makam pahlawan Cepu
Taman makam pahlawan Cepu

Senarai Panjang Wisata Napak Tilas

Tidak kurang dari 24 lokasi tujuan wisata Napak Tilas Sejarah Perjuangan Bangsa di seantero Tanah Air dijajarkan untuk dipilih khususnya oleh remaja, mulai dari tempat (1) Proklamasi 17 Agustus 1945 hingga (24) Puputan Margarana.[3]

Yang lain ialah lokasi (2) Rapat Raksasa IkADa, (3) Perjuangan Masyarakat Sekitar Senen, (4) Perjuangan Masyarakat Sekitar Jatinegara, (5) Konferensi Linggajati, (6) Peristiwa Gedung Saté, (7) Peristiwa Lengkong Besar, (8) Peristiwa FokkerWeg, (9) Peristiwa Bandung Lautan Api, (10) Toha Pahlawan Bandung Selatan, (11) Palagan Ambarawa, (12) Pertempuran Lima Hari di Semarang, (13) Pertempuran Empat Hari di Sålå, (14) R.ute Gerilya Panglima Besar Soedirman, (15) Peristiwa Yogyåkartå atau Jogja Kembali, (16) Serangan Umum 1 Maret 1949, (17) Peristiwa Kotabaru,(18) Pendirian Akademi Militer Jogja, (19) Peristiwa Plataran, (20) Peristiwa Hotel Oranye, (21) Peristiwa 10 November 1945, (22) Pertempuran TRIP di Malang, dan (23) Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso.[4]

Saya yakin senarai ini akan bertambah ketika saya -dan tentu saja juga Anda- memasukkan leluhur kita, baik yang disemayamkan untuk terakhir kalinya di Taman Makam Pahlawan (TMP) maupun tidak, yang terlihat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Di kepala saya saja, paling tidak terbayang tiga nama, dua di antaranya bernama sama, sedangkan yang bernama berbeda sekarang beristirahat di salah satu TMP di daerah perjuangan di Jåwå Timur, karena semasa hidupnya ikut berjuang di Kota Pahlawan Suråbåyå dan berbagai kota lain di Nus(w)antårå.

Namun, saya pasti tidak akan memasukkan nama ayah saya dan kakaknya, yang mendaftar sebagai anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) saja tidak mau. (*MMeSeM/27032017.17:17).-

[1] Anonim, Wisata Napak Tilas, Direktorat Jenderal Pariwisata, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Jåkartå, Februari 1997, halaman ii.

[2] Ibid.

[3] Anonim, op.cit., Februari 1997, halaman Daftar Isi.

[4] Ibid.

Sumber: NextNusantara

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY