Resensi Novel Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela

0
1268
Tetsuko Kuroyanagi

Gadis cilik yang baru kelas satu sekolah dasar itu dikeluarkan dari sekolahnya, karena dianggap mengacaukan kelas. Setelah mencari ke mana-mana akhirnya Mama menemukan sekolah baru untuk Totto-chan. Saat mendaftar di sekolah baru itu Totto-chan mengamati gerbang sekolah yang unik. Tiang gerbangnya adalah dua pohon hidup, dengan papan nama bertuliskan Tomoe Gakuen. Totto-chan hendak bertanya pada Mama apa arti kata Tomoe, ketika dilihatnya sesuatu: gerbong-gerbong kereta di halaman sekolah!

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

Totto-chanTotto-chan, Gadis Cilik di Jendela, adalah novel karya Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris Jepang dan duta internasional UNICEF. Totto-chan adalah nama panggilan Tetsuko waktu kecil. Buku yang pertama kali diterbitkan di Jepang oleh penerbit Kodansha, pada 1981, menceritakan masa kecil Tetsuko saat bersekolah di sekolah dasar Tomoe Gakuen, Tokyo. Sejak saat itu, berjuta-juta orang terinspirasi dan menitikkan air mata karenanya.

Resensi buku Totto-chan yang sedang Anda baca ini, hanya satu dari entah berapa banyak resensi novel yang sederhana tapi luar biasa ini.

 

Sosaku Kobayashi, Kepala Sekolah yang Baik

Tomoe Gakuen, sekolah yang bisa memahami dan mengajari anak- anak dengan tepat, didirikan oleh sang kepala sekolah, Sosaku Kobayashi. Sekolah dasar ini unik dan sangat menyenangkan bagi anak-anak. Halamannya dikelilingi oleh pepohonan dan dihiasi petak-petak bunga. 6 gerbong kereta yang sudah tidak terpakai digunakan sebagai ruang kelas. Kemudian, 1 gerbong lagi ditambahkan dipakai untuk ruang perpustakaan.

Sosaku Kobayashi mempunyai kecintaan dan kesabaran yang luar biasa pada anak-anak. Baginya setiap anak mempunyai watak yang baik. Dia berusaha menemukan watak baik itu dan membantu mengembangkannya tanpa paksaan. Semua orang di Tomoe Gakuen, dari kepala sekolah, para guru, hingga tukang kebun sayang dan ramah pada anak-anak.

Saat Totto-chan mendaftar di Tomoe Gakuen, kepala sekolah memintanya menceritakan semua tentang dirinya. Menceritakan semua dan apa saja yang ingin dikatakannya. Selama Totto-chan bercerita, Mr. Sosaku mendengarkan tanpa bosan atau menguap. Ia selalu tampak tertarik pada cerita Totto-chan. Sesekali ia tertawa, mengangguk, dan berkomentar sedikit. Baru kira-kira 4 jam kemudian Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Kepala sekolah pun meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan, dan berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini.”

Sekolah yang Tidak Menakutkan

Umumnya sekolah reguler penuh dengan peraturan, membosankan, dan bisa membuat stress. Bahkan bagi sebagian anak, sekolah bisa menjadi beban yang berat dan menakutkan. Seringkali anak “bermasalah/nakal” ditangani dengan diberi hukuman, bukannya didikan dan tuntunan.

Tomoe Gakuen mempunyai konsep sekolah yang bebas stress, menyenangkan, mandiri, dan bebas. Membuat murid-muridnya sangat menyukai sekolah, sehingga tak sabar menunggu hari esok agar bisa berangkat sekolah lagi. Setiap hari, wali kelas menuliskan tugas/pelajaran untuk hari itu di papan tulis. Murid dibebaskan memilih urutan mengerjakan tugas/pelajaran itu. Jadi dalam satu jam pelajaran, masing-masing murid belajar mata pelajaran yang berbeda sesuai kesukaannya. Dengan cara itu, tanpa disadari murid juga diajarkan untuk terbiasa berkonsentrasi.

Jika murid-murid menyelesaikan semua tugas hari itu, biasanya mereka diijinkan berjalan-jalan setelah makan siang. Sambil berjalan-jalan pun guru memberikan pelajaran, dengan mengambil materi dan contoh dari lingkungan sekitar.

Di Tomoe, murid diberi kepercayaan dan dilatih untuk bertanggung jawab. Suatu hari dompet kesayangan Totto-chan tercebur ke kakus. Ia berusaha keras mencari dompetnya itu. Menggunakan gayung bertangkai panjang, Totto-chan mengeluarkan kotoran dari bak penampungnya. Kotoran yang ia keluarkan begitu banyak.

Kepala sekolah yang kebetulan melihatnya, tidak marah atau menawarkan bantuan. Ia hanya berkata seperti ini pada Totto-chan,”Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Seorang anak yang diberi kepercayaan, akan mempunyai kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab. Setelah lama tidak bisa menemukan dompetnya, Totto-chan mengembalikan tumpukan kotoran itu ke bak penampung.

Tomoe Gakuen, 1937 – 1945

Anak-anak terlahir polos dan mempunyai watak baik masing-masing. Sayangnya, lingkungan dan perlakuan yang salah dari orang dewasa bisa merusaknya. Tomoe Gakuen, sekolah yang peduli pada watak baik anak, musnah terbakar terkena bom yang dijatuhkan pesawat pembom B29 pada 1945. Saat itu perang dunia kedua sedang berlangsung. Tomoe Gakuen tak pernah dibangun kembali.

Foto: UNICEF, Amazon. (WA)

NO COMMENTS