Sejarah Minyak Cepu Tanpa Legenda Mbah Janjang

3
483
Oil derrick Cepu

Buku nisbi langka berjudul 100 Tahun Perminyakan di Cepu sampai ke tangan saya Jum’at 25 Oktober 2013 bakda maghrib. Fisik buku ini sudah dimakan rayap. Jadi, ada bagian yang sudah tak terbaca. Semoga data yang saya butuhkan masih bisa dipahami.

Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi (PPT Migas) Cepu menerbitkannya pada tanggal 8 Juli 1994, kata Kepala PPT Migas saat itu, Drs. Chaeruddin, yang juga pelindung Tim Penyusun buku tersebut, dalam “Prakata”-nya.

Dengan sekretaris Winarno, Bc.M., dan Ir. Sunarto S., Tim Penyusun itu diketuai oleh Ir. Supanan, dengan anggota: Ir. Beni Ralahalu, Ir. Mustakim, Dr. Ir. Zuhdan Fathoni, Ir. Sabardi Musliki, Ir. Hazuardi, Praseno, Bc.M., Ir. Warsito, Moch. Suharsono, B.A., Drs. Agus Rawi Siregar, dan Maria Goretti Ruji Astiken. (halaman 168)

Ditulis bahwa “minyak dan gas bumi telah diketahui kehadirannya sekira[1] tahun 331 sebelum Masèhi[2](SM), saat Alexander Agung melihat api abadi yang menyala di permukaan bumi.” (halaman 3)

Buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu
Buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu

Akan tetapi, buku yang dicetak dengan kertas kilap ini sama sekali tidak menyinggung legenda mBah Janjang, Pangéran Jati Kusumå bin Jåkå Tingkir (k. 1549–1587[3]), raja Kesultanan Pajang (k. 1549–1618[4]).

Pangéran Jati Kusumå telah menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar obornya. Ini terjadi pada era adiknya lain ibu, Pangéran Benåwå (k. 15..–1588 M) menjadi adipati Jipang. Pangéran Benåwå (k. 1588–1589 M) juga sempat menduduki takhta Pajang.

Sumber lain menyatakan Sultan Pajang baru dapat menguasai Jipang pada tahun 1558 M dan menunjuk Aryå Mataram, adik lain ibu Aryå Penangsang (k. 1521–1549 M), sebagai adipati.

Dengan demikian, angka tahun kematian Aryå Jipang III[5] juga mungkin 1558 M, atau dengan kata lain Aryå Penangsang sempat menjadi “sultan Demak” (k. 1549–1558 M) yang memerintah dari Jipang Panolan.

“Dan karena kesaktiannya pula, akibat kegelapan, Pangéran (Jati Kusumå) menancapkan teken Kiyai Jumpinå ke tanah. Keluarlah dari tanah bekas tusukan tongkat tadi cairan yang dapat menyala untuk penerangan. Cairan itu…lah minyak yang keluar dari bumi, yang terdapat di Magung (Ledok).” Demikian didongengkan orang setempat.[6]

Marilah kita kembali membaca buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.

Cepu (Plunturan = Panolan)?

Adrian (M.)[7] Stoop-lah satu-satunya orang yang paling layak dikaitkan dengan penemuan minyak di wilayah yang secara luas kini disebut Blok Cepu ini. Perihal sejarah blok ini insya-Ållåh nanti saya akan tulis tersendiri.

Apa yang ditulis dalam buku itu mengenai Cepu? Berikut ini saya kutipkan apa adanya:

“Cepu (Plunturan = Panolan) ialah kota kecil di tepi Bengawan Sålå di perbatasan Jåwå Tengah dan Jåwå Timur.” (halaman 36).

Bagaimana mungkin tim penyusun buku tersebut bisa menulis seperti itu? Jarak antara Dusun Plunturan, yang menjadi Kampung Semangat di pusat Kota Cepu sekarang, dan Desa Panolan sangat jauh.

Untuk memudahkan Anda, saya akan menjadikannya kalimat “Cepu berkembang dari Dusun Plunturan yang terletak di bekas Kadipatèn Jipang Panolan.” Kenapa nama dusunnya Plunturan?

Menurut orang tua-tua setempat, mluntur itulah cara orang mengambil minyak bumi yang merembes ke permukaan tanah berair di sana. Mereka menggunakan gelam (Jåwå: kulit kayu jati) yang dipilin menjadi tali untuk menyerap minyak permukaan tersebut.

Bila Anda paham kata dasar berupa kata kerja yang menjadi nama Desa Panolan, yakni manol, yang bermakna memanggul barang di pusat kegiatan perekonomian seperti pasar atau bandar sungai, Anda pasti akan mendapatkan gambaran yang lebih besar dan gamblang perihal desa tersebut pada masa bahari.

Tentu saja, itu persoalan lain yang terkait dengan apa yang oleh pakar Barat –yang lebih pas disebut Orientalis– diistilahkan sebagai Ferry Charter. Ini terjadi pada era Imperium Måjåpahit (k. 1293–1478 M[8]).

Padahal, sebenarnya yang dimaksud tidak lain dari Prasasti Canggu atau Trowulan I (1280 Çåkå/7 Juli 1358 M), yang dikeluarkan oleh Dyah Hayam Wuruk gelar Rajåsånagårå (k. 1350–1389 M)[9] mengenai penetapan 44 desa di tepi Bengawan Sålå dan 34 desa di pinggir Kali Brantas sebagai simå (daerah perdikan) naditiråpradéçå (penambangan/penyeberangan.[10]

Marilah kita lanjutkan membaca buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.

Baca juga: Kopi Santen Jepang Rejo dan Ngantru

Konsesi Panolan

Karena itulah, pemberian hak pencarian minyak bumi tersebut disebut Konsesi Panolan.

“Konsesi minyak di daerah ini bernama Panolan. Peresmiannya pada tanggal 28 Mei 1893 atas nama A.B. Versteegh(. Namun,) A.B. Versteegh tidak mengusahakan sendiri sumber minyak tersebut, tetapi mengontrakkan(nya) kepada perusahaan yang sudah kuat pada masa itu, yaitu perusahaan Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM) di Suråbåyå.” (halaman 36).

“Salah satu persyaratan kontraknya menyebutkan bahwa DPM harus membayar ganti rugi… f10.000 dan f0.10 untuk setiap peti (37,5 liter) minyak tanah dari hasil pengilangannya.” (halaman 36).

“Kontrak tersebut berlangsung… tiga tahun dan baru sah menjadi milik DPM pada tahun 1899. Dengan demikian, meskipun Surat Keputusan Gubernur Jend(e)ral Nomor 6 tanggal 30 September 1896 sudah ada di tangan DPM, namun secara sah baru dimulai pada tahun 1899.” (halaman 36).

Bagaimana cara pemilik DPM itu sampai ke Cepu? Apa upayanya untuk memahami cara membor minyak bumi?

“Pada tahun 1886, Adrian (M.) Stoop pergi ke Amerika (Serikat = AS) selama satu tahun untuk belajar cara orang… AS membor dan mengelola usaha di bidang perminyakan.” (halaman 39).

“Dalam laporannya yang dipublikasi… Jaarboek voor het Mijnwezen van Nederlandsche Indië tahun 1888, disimpulkan bahwa usaha perminyakan di Indonesia (ber)prospek… cukup baik.” (halaman 39).

“Dengan modal f150.000, ia mendirikan DPM. Peralatan yang diperlukan dipesan dari U.S.A. dan dalam waktu enam bulan sampai di Suråbåyå lewat Amsterdam dan Rotterdam.” (halaman 39).

“Selain di Suråbåyå, Adrian (M.) Stoop juga menemukan minyak di daerah Rembang. Pada bulan Januari 1893, dari Ngawi dengan rakit, (ia) menyusuri Bengawan Sålå menuju Ngareng, Cepu.” (halaman 39).

“Ia menyimpulkan bahwa di Panolan(,) terdapat ladang minyak berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Namun daerah itu sudah menjadi konsesi/dikuasai oleh perusahaan lain, dan perusahaan itu belum melakukan kegiatan pemboran, hanya memiliki izin selama enam minggu.” (halaman 39).

“Luas area Konsesi Panolan ialah 11.977 bahu yang meliputi Distrik Panolan sampai dengan perbatasan Konsesi Tinawun. Yang termasuk Lapang Ledok ialah Area Getur dan Nglebur yang produktif sepanjang 2,5 Kilometer dan lebar 1,25 Km.” (halaman 39).

Lantas, apa hasil pemborannya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya kutipkan dulu serba sedikit mengenai Adrian M. Stoop.

Pembor Air Minum

Siapa sebenarnya Adrian M. Stoop? “Selesai pendidikan HBS (SLTA) tahun 1873, (ia) melanjutkan pendidikan di bidang teknik geologi pada Fakultas Teknik Universitas Delft, dan berhasil menjadi sarjana pertambangan.” (halaman 37).

“Pada tahun 1879, ia diangkat sebagai teknisi muda pada Grondpeilwezen di Jåwå dengan tugas membor air minum. Selama bertugas inilah(,) ia menemukan minyak dalam jumlah yang relatif sedikit.” (halaman 37).

Adrian M. Stoop “anak kelima dari sebelas bersaudara. Orang tuanya pengusaha… bank kecil di Kota Dordrecht, Holland.” (halaman 36).

Ia menamai perusahaan pemboran minyaknya “Dordtsche Petroleum Maatschappy Bronnen op Java, (yang) kemudian disebut lebih singkat Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM).” (halaman 57).

Sumur Pertama di Cepu

“Penemuan sumur minyak bumi”… (di wilayah yang sekarang disebut Blok Cepu) “bermula di Desa Ledok, kira-kira sepuluh Kilometer dari Cepu oleh Adrian (M.) Stoop….” (halaman 36).

“Sumur Ledok-1 (yang) dibor pada bulan Juli 1893 merupakan sumur pertama di daerah Cepu.” (halaman 37).

“Pada tahun 1893(,) Adrian (M.) Stoop melakukan pemboran pertama, dengan menggunakan Bor Canada Coring. Selama pemboran(, ia) tidak mengalami kesulitan dan dapat mencapai… 4–5 meter per hari.” (halaman 40).

“Kedalaman pertama yang mengeluarkan minyak ialah 94 meter, dengan produksi empat meter kubik per hari.” (halaman 40).

“Minyak mentah yang dihasilkan sebagian diolah di kilang kecil yang dibangun di daerah Ledok….Kilang Ledok inilah kilang pertama dan tertua di wilayah Cepu.” (halaman 61).

“Lokasi sumur Ledok-1 sampai sekarang masih dikeramatkan dan secara berkala setiap tahun pada bulan tertentu dilaksanakan kenduri.” (halaman 37).

“Di lokasi sumur tersebut(, baik) penduduk setempat maupun karyawan/pegawai Lapang… Ledok setiap akan membuka sumur mengadakan selamatan lebih dahulu.” (halaman 37).

Catatan Kaki:

  1. Saya ganti dari aslinya: “sekitar”, karena bagi saya, kata ini lebih cocok untuk lingkungan, bukan angka tahun –MMeSeM.
  2. Kepanjangan ini saya tambahkan –MMeSeM.
  3. Angka kematian Jåkå Tingkir sebagaimana yang diyakini oleh Hermanus Johannes (H.J.) de Graaf dan Theodoor GautierThomas (Th.G.Th.) Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti dan KITLV, Jakarta, cetakan keempat, edisi revisi, 2001, halaman 244. Buku ini terjemahan dari judul asli De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, Studiën Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, VKI, 69, 1974.VKI ialah Verhandelingen van het KITLV, sedangkan KITLV ialah KoninklijkInstituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Lembaga Budaya, Bahasa, dan Sejarah).
  4. Angka tahun ini, saat pasukan Mataram membumihangus istana Pajang karena bupatinya memberontak, saya ambil dari H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, op.cit., 2001, halaman 233.
  5. Aryå Jipang I ialah mertua Radèn Patah (k.1473–1518 M), pendiri Kesultanan Demak (k.1473–1549 M), dan kakek Radèn Kikin alias Pangéran Suryå gelar Aryå Jipang II (k. …–1521 M), ayah Aryå Jipang III (k. 1521–1549 M), yang juga disebut Aryå Penangsang –MMeSeM.
  6. Anonim, Hilangnya Pusaka Pajang, naskah ketik, tanpa titi mangsa, halaman 4. Saya sudah tahu akan adanya naskah ini setamat Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Blora pada tahun 1972 dan mengejarnya sampai ke Kecamatan Jiken pada tahun 1974, tetapi saya baru dapat memperolehnya pada tahun 2004, ketika guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sambong, Luhur Susilo, yang asal Desa Kentong, Cepu, memfotokopinya di bilangan Taman Sewu Lampu, Kota Cepu,
  7. M. ini saya dapat dalam wawancara dengan Haji Muharno, satu dari sangat sedikit orang setempat yang menjadi mahasiswa Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas, kini: Sekolah Tinggi Energi Minyak = STEM) –MMeSeM.
  8. Angka tahun saya ambil dari Nia Kurnia Sholihat (K.Sh.) Irfan, “Pararaton Revisited: Tafsir Baru Atas Sejarah Keluarga Majapahit,” dalam http://maulanusantara.wordpress.com/,29 Agustus 2008. Tulisan ini tampaknya semula dimuat dalam Harian Umum Sinar Harapan edisi 13 Februari 1985 dan dikutip dalam http://irfananshory.blogspot.com/.
  9. Nama lengkap dan angka tahun saya ambil dari Nia K.Sh. Irfan, op.cit., dalam http://maulanusantara.wordpress.com/, 29 Agustus 2008.
  10. Anonim, “Bengawan Solo Bawa Rejeki dan Bencana,” dalam http://sosialnews.com/, 15 Februari 2012.

Foto: Wikimedia (MMeSeM/WA)

SHARE

3 COMMENTS

  1. Aku malah lg ngerti nek eyang jati kusumo iku adik e joko tingkir, nek jenengan tau sejarah tentang eyang jati kusumo dan jati sworo dan desa janjang saya minta di inbox email nggeh kang, kulo warga janjang.

LEAVE A REPLY