SH Panti, Penjaga Keilmuan Setia Hati Ki Ngabehi Surodiwiryo

0
1242
SH Panti

Ilmu silat aliran Joyogendilo diciptakan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo. Beliau meramunya dari begitu banyak ilmu silat, yang pernah dipelajarinya dari berbagai aliran dan perguruan.

Dalam perkembangannya, murid Eyang Suro banyak yang kemudian mendirikan perguruan sendiri. Keilmuannya pun sudah berbeda dengan ajaran Eyang Suro. Para murid itu mengembangkan keilmuannya sendiri-sendiri, sehingga antara perguruan murid-murid Eyang Suro itu mempunyai keilmuan yang berbeda pula.

Tetapi, perguruan yang didirikan Eyang Suro sebenarnya masih ada sampai saat ini. Setia Hati namanya. Perguruan peninggalan Eyang Suro, yang juga masih setia menjaga keilmuan Joyogendilo asli dari Eyang Suro.

Setia Hati lebih condong berbentuk paguyuban/persaudaraan. Pusat kegiatannya di rumah Ki Ngabehi Surodiwiryo dan istrinya Nyi Sariati, Madiun, yang telah diwakafkan untuk Setia Hati. Tepatnya di Jl. Gajah Mada No. 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Madiun, Jawa Timur.

Di rumah itu pulalah Eyang Suro kembali mengajarkan pencak silatnya pada tahun 1917. Karena berpusat di rumah Eyang Suro, Setia Hati juga dikenal dengan nama Setia Hati Panti (SH Panti). Panti adalah nama lain dari rumah (misalnya panti jompo, panti asuhan).

Awalnya, Eyang Suro mulai mengajar pencak silat pada tahun 1903 di Surabaya. Aliran silat Joyogendilo yang beliau ajarkan bernaung di bawah kelompok persaudaraan Sedulur Tunggal Kecer. Namun pada tahun 1912 terjadi suatu insiden sehingga kegiatan STK terpaksa vakum.

Sampai dengan 1914 Eyang Suro tinggal di rumah saudara SH di luar kota Surabaya. Pada 1914 pula insiden tersebut telah mereda. Atas bantuan saudara SH, Eyang Suro bekerja di Jawatan Kereta Api.

Tahun 1917 Eyang Suro pindah ke Madiun. Beliau kembali mengajarkan silat Joyogendilo. Nama STK yang dirasa kurang bijak dan baik, diubah menjadi Setia Hati.

Setia Hati adalah perguruan yang benar-benar lurus garis kecernya. Keilmuannya sangat tertutup. Ciri khas silat Setia Hati adalah seperti tarian dan bergerak dinamis.

Sebelum masuk menjadi warga, calon anggota disumpah untuk tidak menyebarkan ilmunya dalam bentuk apapun. Sekarang ini, warga Setia Hati (SH) kebanyakan sudah sepuh, namun sebagian kecil ada yang masih muda.

Pada jaman Eyang Suro, prosesi kecer (penerimaan warga baru) hanya dilakukan di rumah Eyang Suro. Tradisi itu tetap dipertahankan oleh SH sampai sekarang.

Kadang (keluarga) SH seluruh Indonesia, akan berkumpul setahun sekali di bulan suro (muharram), di rumah peninggalan Eyang Suro. Dalam pertemuan itu ada acara sambung (sabung) bersama yang diiringi musik keroncong. Acara “adu ilmu” itu tidak berlangsung seram, malah penuh dengan senyuman.

SH tidak mempunyai seragam dan lambang perguruan. Cara berlatihnya juga masih tradisional, tidak mengenal sasana latihan apalagi gym. SH juga tidak mengikuti pertandingan yang diadakan oleh IPSI.

Keanggotaan SH terbuka bagi siapa saja, dari bangsa dan negara apapun. Meski demikian, SH tidak melakukan perekrutan warga secara masif. Siapapun yang ingin belajar di SH, akan diseleksi oleh juru kecer, dengan maksimal dua orang tiap prosesi kecer. Uniknya meski tidak dibatasi, setiap tahun tanpa disengaja hanya ada dua tiga orang yang diterima sebagai warga baru.

Murid SH tidak hanya berasal dari Indonesia. Dahulu Eyang Suro pernah mengajar orang Belanda. Sampai beberapa saat terakhir, hubungan pengurus SH dengan murid SH di Belanda itu masih terjalin baik.

SH mempunyai filosofi dasar yang luhur dan manusiawi. Setia Hati memiliki makna setia menuruti kehendak hati yang luhur untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. SH mengajarkan keselamatan lahir dan batin, yang terwujud dalam pencak silat dan ajaran keTuhanan.

”Kalau saja semua SH berpedoman pada pakem yang diajarkan Ki Ngabehi Surodiwiryo, tidak akan pernah ada insiden. Karena seorang SH sejati pasti akan menghindari perbuatan yang tidak pantas, seperti mencelakai orang lain,” kata Koes Soebakir, juru kecer Setia Hati saat ini.

Secara organisasi SH dijalankan oleh tiga unsur, yaitu Badan Pengesuh atau Pengikat, Badan Pengasuh, dan Badan Pertimbangan.

Pengesuh berasal dari kata dasar esuh, dalam bahasa Jawa berarti pengikat lidi. Pengesuh bisa diartikan sebagai pemersatu yang bertanggung jawab terhadap SH. Yang bisa menjadi seorang pengesuh harus warga tingkat tiga. Dari Badan Pengesuh inilah akan diangkat juru kecer, yang akan mengesahkan seseorang sebagai warga SH.

Tercatat ada tujuh Pengesuh atau Pengecer Setia Hati dari jaman Eyang Suro sampai sekarang.

  1. Ki Ngabehi Surodiwiryo (1903-1944)
  2. Koesnandar, bupati Madiun kala itu (1944-1947)
  3. Kolonel Singgih, Gubernur Akademi Militer Nasional Magelang (1947-1957)
  4. Hadi Subroto (1957-1977)
  5. Karyadi (1957-1977)
  6. Soemakto (1978-1998)
  7. Koes Soebakir (1998-Sekarang)

Sedangkan Badan Pengasuh bertanggung jawab atas rumah tangga SH. Yang mengemban peran ini tidak harus tingkat tiga layaknya Pengesuh. Tugasnya sebagai pelaksana upacara kecer, suran, atau silaturahim.

Badan Pertimbangan bertugas memberikan pertimbangan, referensi, dan bagaimana keputusan yang akan diambil oleh organisasi. Tapi bukan berarti mendominasi badan pengesuh maupun pengasuh.

Sumber: praktisi SH, Kadang SH. Sumber gambar: KSH. (WA)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY