Yang Senang dan Yang Sengsara Karena Perang

0
1110
perang

Bumi menjadi saksi entah berapa jumlah peperangan antar manusia. Perang terjadi sejak era sebelum Masehi hingga jaman modern. Saat tulisan ini dibuat pun masih ada perang. Di sana… di Suriah, Yaman, Libya, Palestina.

Sebab perang bermacam-macam. Melawan penjajah, menjajah, ingin menguasai/mengatur sumber daya alam sebuah negara, berebut kekuasaan. Kadang bahkan perang disebabkan hanya oleh nafsu segelintir orang.

Seringkali para prajurit yang saling membunuh dalam perang melakukannya karena kewajibannya pada negara. Secara pribadi para prajurit yang bertikai itu tidak saling mempunyai masalah. Jika mereka bertemu pada masa damai, tidak ada alasan untuk bermusuhan.

Tahun 2016 ini saat kita berpapasan dengan seorang warga Belanda di Malioboro, Yogyakarta, sikap kita biasa saja. Beda ceritanya jika hal itu terjadi di tahun 1949 saat terjadi perang melawan Belanda di Yogyakarta.

Bagi banyak pihak, perang itu kejam dan mengerikan. Bagi pihak lain, perang itu menguntungkan.

Bagi banyak pihak, perang itu kejam dan mengerikan. Bagi pihak lain, perang itu menguntungkan.

Yang Senang Karena Perang

Perang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang jantungnya berbulu. Mereka yang terbiasa melakukan kejahatan semakin merajalela. Perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya semakin menjadi. Pelakunya tahu pengawasan terhadap kejahatan sedang lemah.

Dewasa ini perang juga sudah menjadi bisnis tersendiri. Banyak sekali perusahaan yang bergerak di bidang peralatan dan teknologi perang. Mereka berlomba-lomba membuat alat yang paling baik untuk mempertahankan diri. Sebaliknya, juga alat yang paling baik untuk melumpuhkan dan membunuh sesama.

Di saat damai mereka bisa menangguk untung. Terlebih lagi di masa perang.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa Barat telah membangun industri militer yang sangat mahal. Baik di masa damai maupun selama banyak masa konflik.

Amerika Serikat adalah pasar pertahanan (militer) yang sangat besar. Beberapa perusahaan di Amerika Serikat adalah produsen senjata papan atas dunia.

Produk mereka berharga sangat mahal. Satu pesawat tempur F-35 buatan Lockheed Martin misalnya, berharga hampir 100 juta dolar Amerika.

Biaya yang dikeluarkan tidak berhenti ketika sudah melakukan pembelian. Perawatan alat-alat perang pun membutuhkan pembelian berbagai komponennya. Selain itu, amunisi juga terus-menerus dibutuhkan.

Siapakah konsumen terbesar industri militer? Bukan kelompok-kelompok paramiliter atau gangster. Tapi pemerintah-pemerintah resmi berbagai negara di dunia ini.

Pemerintah bukan hanya sebagai pelanggan. Sebagian dari mereka adalah pembuat keputusan yang menyetujui atau menolak pembelian alat-alat pertahanan.

Siapa yang untung jika terjadi pembelian itu? Utamanya adalah produsen senjata, profit yang diraup tidak tanggung-tanggung.

General Dynamics pada 2014 membukukan total penjualan sebesar 30,85 miliar dolar Amerika. Sebanyak 18,6 miliar dolar didapat dari penjualan senjata. Perusahaan ini berhasil memperoleh profit 2,82 miliar dolar.

Begitu besar uang yang terlibat, begitu banyak kantong yang menggembung penuh uang. Make war = make money?

(Referensi: 247wallst.com)

Yang Sengsara Karena Perang

Korban paling menyedihkan dari perang adalah rakyat.

Ketika perang dimulai tiba-tiba kehidupan menjadi tidak normal. Ibu-ibu tidak bisa pergi ke pasar dengan tenang. Anak-anak tidak lagi berangkat sekolah dengan wajah ceria.

Berangsur-angsur kecemasan, ketakutan, dan teror semakin meningkat. Jalanan menjadi tempat yang berbahaya. Makanan dan minuman kian sulit. Hari-hari dilalui dengan bertahan hidup dan berlindung.

Rakyat sudah menjadi korban bahkan sebelum perang dimulai. Jaman dahulu saat persiapan perang mungkin rakyat diharuskan memberikan sebagian hasil panen untuk perbekalan. Sekarang, anggaran untuk kepentingan publik terpaksa mengalah dipangkas untuk biaya perang.

Nyawa menjadi tak berharga. Tengoklah contoh korban dari beberapa perang di bawah ini:

  • Pengeboman nuklir pada kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, membunuh paling tidak 129.000 orang (sumber).
  • Perang di Suriah yang masih berlangsung hingga kini, telah menelan lebih dari 250.000 korban jiwa (sumber).
  • 29 November 1864, 150 penduduk asli (Indian) Amerika dibunuh dan dimutilasi oleh orang-orang kulit putih. 2/3 dari mereka adalah wanita dan anak-anak (sumber).
  • Pada Perang Korea yang berakhir pada Juli 1953, sekitar 5 juta tentara dan warga sipil menjadi korban (sumber).

Kota yang dulu indah pun jadi puing-puing. Banyak fasilitas publik yang hancur karena perang. Untuk membangunnya kembali memakan biaya dan sumber daya alam yang tidak sedikit. Semakin terkuraslah sumber daya alam kita.

Ketika berakhir, perang meninggalkan kenangan buruk, trauma, luka batin, cacat jiwani dan badani. Bahkan meninggalkan dendam.

Seorang anak Bosnia yang saya kenal dari Facebook pernah berkata,”Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku dibunuh tanpa perlawanan. Hanya aku yang selamat. Itulah sebabnya kadang aku bertingkah aneh di mata kalian.” (WA)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY